Breaking News:

Pelaku UMKM Asal Siantar Curhat tak Bisa Jual Lewat E-commerce,Tampilan Produk Kurang Menarik

belum dapat masuk e-commerce dengan beberapa kendala diantaranya fasilitas digital yang tidak memadai dan kemasan yang tak menarik.

Shutterstock
Ilustrasi e-commerce 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Pernyataan Presiden Jokowi mengenai mencintai produk dalam negeri ternyata tak hanya ucapan saja. Nyatanya, banjirnya produk asing lewat e-commerce begitu menyulitkan pelaku UMKM untuk dapat memiliki ruang untuk bersaing secara global.

Hal ini diungkapkan Abdul Rahman, pengusaha Kuping Gajah cap Bunga Melati asal Pematang Simalungun kecamatan Siantar.

"Kalau kita pastinya terdampak. Karena mereka itu lebih murah, sehingga kita susah bersaing di e-commerce seperti itu. Jadi produk mereka dengan produk kita lumayan ada selisihnya. Sekarang orang mencari yang murah meriah," ungkap Abdul, Minggu (7/3/2021).

Baca juga: Terkendala Fasilitas dan Sistem Pembayaran, Hanya 30 Persen UMKM Masuk e-Commerce

Sebagai pelaku usaha kuliner, tentu Abdul ingin produknya dapat bersaing dan terdistribusi secara meluas. 

Abdul mengungkapkan bahwa dirinya belum dapat masuk e-commerce dengan beberapa kendala diantaranya fasilitas digital yang tidak memadai dan kemasan yang tak menarik.

"Fasilitas kita belum mendukung dan kemudian kemasan kita. Bagaimana kita mau luncurkan ke e-commerce sementara kemasan kita belum memenuhi standar. Kita memang sudah ada cap tapi kan semua bahan baku naik sedangkan kita mengelem pake lampu teplok. Kita masukkan e-commerce pun kalau tak menarik ya kurang pembeli juga," ungkap Abdul, Minggu (7/3/2021).

Berdiri sejak 1982, Abdul menuturkan bahwa sejauh ini usahanya didistribusikan melalui sosial media diantaranya Facebook.

"Kalau untuk pemasaran kita hanya share di Facebook. Kita pampangkan saja produk kita, manakala ada distributor yang mau itu dapat menghubungi nomor HP kita. Saya coba pernah dari Facebook itu kita tidak kenakan biaya ongkos di pengiriman paket. Jadi kita harganya sekilo berapa ya ongkosnya berapa, jadi kadang sama saja. Itu yang beratnya," tuturnya. 

Lanjutnya, Abdul berharap nanti akan ada sebuah wadah untuk mendukung dan mendampingi para pelaku UMKM mengembangkan usaha.

"Harapannya ya kita punya rumah kemasan dan pemasaran jadi satu. Jadi semua masyarakat itu bisa terbantu. Sejauh belum ada buat seperti itu. Karena rata-rata kita di sini kan gaptek karena yang pengusaha itu rata-rata usia 40-an ke atas jadi masih banyak penjualan konvensional," pungkas Abdul.

Penulis: Kartika Sari
Editor: Eti Wahyuni
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved