Breaking News:

Ngopi Sore

Indonesia Didepak dari All England, Netizen Langsung Amalkan Sila Ketiga Pancasila

Tujuh pemain dari negara lain yang sebelumnya terindentifikasi positif Covid-19. Mereka kemudian diperiksa ulang, dan selang 24 jam dinyatakan negatif

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
Instagram
Tangkapan gambar Instagram reaksi netizen Indonesia terkait keputusan pencoretan tim bulu tangkis Indonesia dari All England. 

Sebagai satu di antara negara yang masuk jajaran lima besar pengguna internet terbanyak di dunia, netizen (warganet) Indonesia sangat diperhitungkan. Setidaknya ada dua sebab.

Satu, aktivitas-aktivitas yang kerap menciptakan trending. Tak jarang, satu kejadian di tempat-tempat yang jauh dari Indonesia, menjadi trending justru setelah dipicunya netizen Indonesia. Di Twitter, misalnya, tanda pagar (tagar) bikinan netizen Indonesia berulangkali nangkring di posisi puncak.

Kedua adalah level keganasan. Iya, netizen Indonesia kesohor ganas, brutal, dan hampir-hampir tidak kenal ampun saat melakukan serangan terhadap pihak-pihak yang berseberangan dengan mereka. Dan jangan pula coba-coba melawan jika tidak ingin "mati berdiri".

Begitulah, untuk perkara-perkara ini netizen Indonesia memang tiada banding. Namun ada satu hal lain yang juga tidak kalah menggetarkan. Perkubuan! Faksi-faksi; kelompok, yang serba fanatik dan bermusuhan satu sama lain.

Paling legendaris tentulah perseteruan kubu Cebongers dan Kampreters. Mereka bergesekan soal apa saja. Bahkan setelah Prabowo Subiyanto dan Sandiaga Uno diajak Jokowi masuk kabinet, bentrok demi bentrok terus terjadi.

Meski demikian, pada momentum-momentum tertentu, kubu-kubu ini bisa bersikap dan menunjukkan cara pandang yang sama. Mereka secara nyata mewujudkan sila ketiga Pancasila, persatuan Indonesia. Mereka bersatu untuk menggempur pihak-pihak yang dinilai melecehkan harkat dan harga diri bangsa.

Yang terakhir ini baru saja terjadi. Indonesia, persisnya tim nasional bulu tangkis Indonesia, didepak oleh Badminton World Federation (BWF) dari All England. Dalam keterangan resminya, BWF menyebut panitia turnamen "terpaksa" mengeluarkan Indonesia lantaran harus menjalankan protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah Inggris melalui National Health Service (NHS).

Menurut BWF, panitia mendapatkan informasi NHS bahwa seorang di antara penumpang pesawat yang membawa tim nasional bulu tangkis Indonesia (penerbangan dari Istanbul menuju Birmingham) diketahui terjangkit virus Corona penyebab penyakit Covid-19. Aturan protokol kesehatan Inggris, siapa pun yang berada dalam radius tertentu bersama seseorang atau sekelompok orang terjangkit Covid-19, meski diperiksa dan diawasi dalam karantina selama 10 hari.

Sampai di sini barangkali tidak ada masalah. Miris memang miris. Kecewa, tentu saja. Apalagi, sampai saat keputusan ditetapkan, Indonesia telah meloloskan empat wakil ke babak perempat final. Di nomor ganda putra ada Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukomulyo dan Muhammad Ahsan/Hendra Setiawan. Kemudian ganda putri Greysia Polii/Apriyani Rahayu, dan juga ada Jonatan Christie di tunggal putra.

Apa boleh buat. Demikian peraturan di negara orang dan tim bulu tangkis Indonesia –katakanlah– sedang ketiban sial. Siapa bisa menyangka di pesawat tersebut ada yang terjangkit Covid-19? Bahwa "kecolongan" ini bisa terjadi, apakah lantaran keteledoran pihak bandara di Istanbul, persoalannya berbeda.

Halaman
12
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved