TRIBUNWIKI
Kisah Dibalik Tradisi Tabur Bunga Kertas Di Masa Cheng Beng, Ini Penjelasan Budayawan
Tradisi penaburan bunga kertas di pemakaman leluhur itu sudah ada sejak lama. Kisah awalnya berasal dari masa dinasti Ming pada 1368-1644 Masehi.
"Itulah awal mula tradisi bunga kertas ditaburkan di masa Cheng Beng," ucapnya.
Sebelumnya Jud Ang juga menjelaskan tradisi Cheng Beng sudah ada sejak zaman dinasti Zhou sekitar 1.100 -221 sebelum Masehi.
Cheng artinya sangat cerah, sementara Beng adalah sangat terang. Penamaan ini diberikan untuk menandai cuaca yang sangat cerah dan terik.
"Sebenarnya perayaan ini sangat berkaitan dengan musim. Dalam satu tahun kan ada empat musim, musim semi Januari - Maret, musim panas April - Juni, musim gugur Juni - September, dan musim dingin Oktober - Desember," kata Jud Ang, Minggu (4/4/2021).
Ia mengungkapkan kalender Cina lebih lambat satu bulan dari kalender Masehi. Walhasil, perayaan Cheng Beng yang seharusnya jatuh di bulan tiga kalender China berubah menjadi bulan empat di kalender Masehi.
Alasan Cheng Beng berada di musim semi, sebab cuaca di kala itu sangat bagus untuk bercocok tanam. Oleh karena itu, dapat dikatakan Cheng Beng itu perayaan awal musim bercocok tanam.
Baca juga: Air Ledeng Sudah Mengalir 24 Jam, Warga Denai: Terimakasih PDAM Tirtanadi dan Gubernur Sumut
"Jadi ini hari yang sangat dinanti-nantikan oleh petani. Penamaan ini dari rakyat Tionghoa, khususnya dari ahli astrologi. Karena di sejarah tidak ada yang spesifik dan banyak versi," ujarnya.
Dia juga menjelaskan Cheng Beng pada dasarnya adalah produk kebudayaan Tionghoa. Selain dimaknai sebagai penanda bercocok tanam, Ceng Beng juga menghadirkan ritual warga Tionghoa ziarah ke makam.
Orang Tionghoa, lanjut Jud Ang, sangat hormat terhadap leluhur. Walhasil ketika masa ingin bercocok tanam tiba, maka wajib memanjatkan doa ke para leluhur.
Itu dilakukan sebagai wujud terimakasih dan penghormatan kepada pendahulu. Selain itu juga untuk meminta restu agar tanaman yang diusahakan dapat berjalan lancar.
Kegiatan sesampainya ke makam, masyarakat Tionghoa biasanya membersihkan kuburan sebagai wujud bakti. Kedua, membawa sesaji seperti dupa, lilin, buah - buahan, kue, bunga.
Baca juga: Kolam Renang Bintang Johor, Dilengkapi Berbagai Fasilitas, Cocok untuk Liburan dengan Keluarga
"Buahnya biasanya jeruk, apel, pir. Itu semua hanya persembahan simbolik atas ketulusan hati," katanya.
Selain itu ada juga bakar - bakar rumah-rumahan kertas, celana dan pakaian dari kertas, emas dan perak dari kertas juga. Fungsi ritual ini untuk menenangkan arwah di dunia lain.
"Nah, jadi membuat atribut dari kertas itu juga punya keseniannya juga. Agar apa yang kita berikan itu memang yang terbaik dan tulus dari hati," ucapnya.
(Cr8/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/masyarakat-tionghoa-memasang-dan-menaburkan-kertas-warna-warni.jpg)