Breaking News:

TRIBUNWIKI

Capah, Piring Tradisional Suku Karo Berukuran Jumbo, Terbuat dari Kayu Nangka

Capah sendiri memiliki ukuran yang besar yakni dengan tinggi kurang lebih 15 cm, berdiameter sekitar 30 - 35 cm, dengan penampang atas 35 cm.

TRIBUN MEDAN/GITA
Rosmawati br Ginting (50) memegang capah miliknya yang sudah berumur puluhan tahun. 

TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN - Sebelum mengenal peralatan dapur seperti yang ada saat ini, masyarakat Suku Karo dengan kreatifitasnya sudah memiliki peralatan dapur yang dibuat sendiri dengan memanfaatkan kekayaan alam.

Satu diantara sekian peralatan dapur tradisional yang hingga saat ini umumnya masih banyak dimiliki masyarakat Karo yakni Capah.

Rosmawati br Ginting (50) memegang capah miliknya yang sudah berumur puluhan tahun.
Rosmawati br Ginting (50) memegang capah miliknya yang sudah berumur puluhan tahun. (TRIBUN MEDAN/GITA)

Baca juga: Renee Paquette Sang Pegulat Cantik yang Ngaku Percaya Diri karena Kehamilan Bikin Gemuk, Ini Fotonya

Capah, atau piranti saji  merupakan piring makan tradisional suku Karo, yang terbuat dari kayu Nangka atau kayu piale.

Namun, jangan salah piring tradisional suku Karo satu ini, berbeda dengan piring yang digunakan masyarakat umum yang memiliki ukurannya yang kecil. 

Capah sendiri memiliki ukuran yang besar yakni dengan tinggi kurang lebih 15 cm, berdiameter sekitar 30 - 35 cm, dengan penampang atas 35 cm dan penampang bawah 15 cm.

Tidak seperti piring pada umumnya yang bisa diangkat dengan mudah oleh anak kecil, capah yang ukurannya cukup besar ini juga lumayan berat. Capah diperkirakan memiliki berat 4 sampai 5 kg tergantung jenis kayu dan umurnya.

Seorang warga suku Karo yang masih memiliki Capah di rumahnya, Rosmawati br Ginting (50) mengatakan dahulu capah ia gunakan makan bersama keluarganya, namun saat ini tidak digunakan lagi dan hanya sehagai penghias rumah.

Baca juga: Surat Edaran Melarang di Kedai Pada Hari Minggu, Ini Jawaban Bupati Toba Poltak Sitorus

"Capah ini piring tradisional suku Karo, inikan ukurannya lumayan besar, jadi biasanya ada 4 atau 5 orang yang makan dalam satu capah ini.

Dulu waktu saya masih kecil masih sering kami pakai ini, tapi kalau sekarang enggak pernah lagi cuma jadi hiasan rumah saja," katanya, Sabtu (24/4/2021).

Ros mengatakan capah itu warisan dari orangtuanya, dan sudah ada sejak ia masih sekolah dasar (SD).

Halaman
123
Penulis: Gita Nadia Putri br Tarigan
Editor: Ayu Prasandi
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved