Breaking News:

Ramadhan 2021

Jalani Ramadhan di Belgia, Anak Medan Yudha Sempat Syok Puasa Hingga 18 Jam

Jalani Ramadan dan berbuka puasa di negeri orang tentu akan berbeda saat melakukannya bersama keluarga.

Penulis: Kartika Sari | Editor: Juang Naibaho
TRIBUN MEDAN / HO
Dokumentasi Yudha saat berada di Belgia beberapa waktu lalu 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Jalani Ramadhan dan berbuka puasa di negeri orang tentu akan berbeda saat melakukannya bersama keluarga.

Hal ini dirasakan oleh Yudha, mahasiswa asal Medan yang sedang menempuh pendidikan doktoral di Universitas KU Leuven, Belgia.

Yudha telah menjalani Ramadhan di Belgia sejak tahun 2016. Namun ternyata, mahasiswa jurusan robotika ini juga telah merasakan Ramadhan di Negeri Kincir Angin Belanda selama 2,5 tahun pada tahun 2013 lalu.

Bertahun-tahun berpuasa di Eropa, membuat Yudha terbiasa mengikuti tradisi di negara minoritas muslim tersebut.

Yudha kemudian mengenang pertama kalinya menjalani Ramadhan di Eropa kala dirinya sempat terkejut untuk beradaptasi dengan kondisi durasi berpuasa yang jauh berbeda dengan di Indonesia. Bahkan mencapai 18 jam.

"Dulu waktu pertama kali Ramadhan di Eropa lumayan syok karena durasi puasanya sangat panjang (16-18 jam). Tapi setelah beberapa tahun di sini, Alhamdulillah sudah bisa adaptasi," ungkap Yudha, Senin (26/4/2021).

Baca juga: Kata-kata Mutiara Nuzulul Quran saat Sambut 17 Ramadhan 1442 H, Cocok Dibagikan via WA dan FB

Baca juga: Kapan Malam Nuzulul Quran Ramadhan 1442 H? Berikut Serajah dan Peristiwa Besar Bulan Ramadan

Selain durasi puasa, Yudah juga mengatakan dirinya juga membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan waktu ibadah.

Di saat musim panas/semi seperti sekarang, waktu subuh di Belgia sekitar pukul 03:15 pagi sedangkan waktu Maghrib sekitar pukul 21.00 malam.

Sehingga, tak jarang dirinya baru selesai menjalankan tarawih saat menjelang tengah malam.

Tak hanya itu, menjadi minoritas di negara tersebut, Yudha dan umat muslim lainnya harus saling menghormati.

"Karena warga muslim di Belgia minoritas, ada beberapa hal yang memang tidak bisa dilaksanakan sama persis seperti di Indonesia. Ibadah di mesjid, misalnya, harus dilaksanakan lebih tertib dan jangan sampai mengganggu ketenangan warga sekitar masjid," tuturnya.

Di Leuven, Yudha tinggal tak jauh dari dua masjid sehingga dirinya sama sekali tak mengalami kendala apapun. Namun, akibat pandemi belum hilang secara penuh, kini dirinya masih menjalani ibadah di rumah.

"Dulu waktu lockdown ketat, tempat-tempat Ibadah termasuk mesjid tidak diperbolehkan buka. Sekarang sudah ada sedikit pelonggaran, namun karena jumlah maksimal dibatasi, saya hampir selalu beribadah dan salat di rumah," kata Yudha.

Baca juga: Jalani Puasa Lebih 17 Jam di Irlandia, Riva Rindu Suara Ibu Saat Bangunkan Sahur di Kampung Halaman

Baca juga: Pelaku Usaha Kue Musiman Raih Omset Jutaan Rupiah di Bulan Ramadan

Tentunya, bertahun-tahun menjalani Ramadhan jauh dari tanah air, ada begitu banyak kerinduan saat menjalani tradisi di tanah air, diantaranya berburu takjil saat menjelang berbuka dan mengikuti agenda buka bersama keluarga dan teman-teman.

Halaman
12
Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved