Ketidakberesan Penataan Lingkungan

Pak Bupati, Sampah Menumpuk di Kawasan Deliserdang Ini Bikin Mual dan Muntah

Sampah di Jalan Ismail Harun, Kecamatan Percut Seituan, Kabupaten Deliserdang menimbulkan aroma tak sedap dan mengganggu pemandangan

Penulis: Rechtin Hani Ritonga | Editor: Array A Argus
TRIBUN MEDAN/RECHTIN HANI RITONGA
Tumpukan sampah mengular di Jalan Ismail Harun, Kecamatan Percut Seituan, Kabupaten Deliserdang, Rabu (26/5/2021). Tumpukan sampah ini kerap menimbuklkan bau busuk dan bikin mual.(TRIBUN MEDAN/RECHTIN HANI RITONGA) 

TRIBUN-MEDAN.COM,MEDAN--Tumpukan sampah di Jalan Ismail Harun, Kecamatan Percut Seituan, Kabupaten Deliserdang menimbulkan aroma tak sedap.

Selain itu, keberadaan tumpukan sampah ini mengular hingga tujuh meter.

Bukan cuma itu saja, lokasi tumpukan sampah ada di beberapa titik di Jalan Ismail Harun.

Hampir semua titik tumpukan sampah berada di tepi jalan dan menutupi saluran drainase.

Baca juga: Arang Briket, Hasil Daur Ulang Sampah Organik, Arang Sehat Tanpa Asap

Bau tak sedap hingga menusuk hidung juga tercium oleh setiap pengendara yang lewat.

Mirisnya, dari hari ke hari tumpukan sampah justru semakin banyak.

Seorang warga sekitar, Rani mengatakan tumpukan sampah di Jalan Ismail Harun sudah bertahun-tahun tidak ditindak oleh pemerintah setempat.

Warga berharap Bupati Deliserdang Ashari Tambunan bisa menegur anak buahnya, agar masalah kecil seperti ini bisa segera diatasi.

Baca juga: TPA Terjun, Satu-satunya Lokasi yang Menampung Sampah dari 21 Kecamatan di Medan

"Sudah lama sekali, dulu zaman jalan ini belum diaspal sudah ada, cuma karena masih tertutup tanah dan semak-semak jadi tidak terlalu kelihatan. Kalau sekarang makin parah," kata Rani kepada www.tribun-medan.com, Rabu (26/5/2021).

Rani mengatakan, oknum yang membuang sampah tidak begitu diketahui berasal dari mana, kemungkinan besar adalah warga sekitar yang tinggal tidak jauh dari Jalan Ismail Harun.

"Ya, warga sekitar juga, tapi kalau kami enggak buang di situ. Kan sudah ada yang ngutip sampah, itu bayar tiap bulannya. Itu yang buang sembarangan begitu ya mereka tidak mau bayar, jadi tinggal buang gitu aja," tuturnya.

Rani mengatakan, untuk biaya pengutipan sampah, dirinya dikutip Rp 20.000 setiap bulannya.

Baca juga: KONDISI Danau Toba Pasca-banjir Bandang Parapat Sampah hingga Kayu Sisa Pemotongan Sinso Terapung

Petugas pengutip sampah biasanya datang dua hari sekali.

"Kami dikutip Rp 20 ribu setiap bulan. Ada bukti pembayarannya. Katanya itu diangkut ke TPS tapi saya kurang tau juga gimana," ungkapnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved