TRIBUNWIKI

Sosok Muhdi, Pengusaha Kripik Singkong Asal Sumut yang Berhasil Masuk Pasar Ekspor Hingga Korsel

Lelaki yang akrab disapa Muhdi ini kini telah berhasil memasarkan produk keripik singkongnya hingga ke mancanegara.

Tayang:
Editor: Ayu Prasandi
Tribun-medan/Rechtin
Muhdi bersama keripik singkong miliknya yang diekspor ke Korea Selatan. Muhdi memulai usaha keripik Singkong sejak 22 tahun lalu dan kini telah memasuki pasar ekspor dua negara 

TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN- Keuletan dan keteguhannya dalam menekuni usaha keripik singkong sejak 1999 tak sia-sia.

Lelaki yang akrab disapa Muhdi ini kini telah berhasil memasarkan produk keripik singkongnya hingga ke mancanegara.

UD Kreasi Lutvi miliknya yang terletak di Pancur Batu, Deliserdang pun kini menjadi usaha yang memberdayakan warga sekitar.

Sejak 2014 keripik singkongnya telah dipasarkan secara rutin ke Korea Selatan dan Malaysia.

Baca juga: Sejarah Kota Binjai, Pernah Dijadikan Pelabuhan oleh Bangsa Belanda

"Awalnya sebenarnya karena mau coba-coba untuk berjualan, siapa tahu laku. Untuk kasih makan anak istri. Dulu masih buat keripik untuk dititip ke warung-warung saja," kata Muhdi saat diwawancarai Tribun Medan pekan lalu.

Memulai usahanya dengan bekal pengetahuan yang ia dapat semasa kecil, Muhdi bereksperimen dengan keripik miliknya.

Saat itu tahun 1998 ketika merintis usaha untuk pertama kalinya Muhdi memasarkan produknya dari warung ke warung hingga kantin-kantin sekolah.

"Dulu sama sekali enggak pande bikin keripik. Bukan ahli lah. Cuma karena di kampung sering lihat orang bikin keripik ya jadi coba-coba saja," katanya.

Ia pun tak memungkiri pada awalnya keripik miliknya tak sedikit mendapatkan kritik. Mulai dari rasa yang kurang asin ataupun tekstur yang kurang gurih.

Baca juga: Artis BCL Sesak Nafas, Kondisi Bunga Citra Lestari Hari ke 3 Demam akibat Covid-19

"Ya saat itu mulai sadar bahwa masing-masing orang itu lidahnya beda-beda, enggak sama. Jadi waktu itu harus menyesuaikan juga rasa yang bisa diterima itu memang yang lebih asin menurut saya pribadi yang orang Jawa," ungkapnya.

Pada 1998 Muhdi memproduksi mulai dari 10 kilogram keripik hingga 30 kilogram. Karena jumlah produksi yang semakin meningkat ia juga melibatkan bantuan ibu-ibu di dekat rumahnya.

"Waktu itu saya membuat kemasan nya pernah ukuran. Semakin lama jumlah yang diminta semakin banyak apalagi dari kantin sekolah. Mulailah saya minta bantuan tetangga untuk ikut bantu-bantu buat keripik," katanya.

Muhdi pun mulai memperkerjakan ibu-ibu rumah tangga di sekitar rumahnya. Ia juga mengajari mereka cara menggoreng dan bagaimana menghasilkan keripik dengan standar yang sudah ia terapkan.

"Beberapa mulai saya pekerjakan dan saya ajari pelan-pelan. Sebenarnya semua berasal dari eksperimen. Sampai akhirnya keripik kami punya ciri khas di mana rasa yang gurih dan renyah. Nah untuk menghasilkan itu tentu ada standar-standarnya," tuturnya.

Di sepanjang perjalanan produksi itu, Muhdi tak memungkiri mengalami banyak kendala dalam menjalankan usahanya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved