Kedai Tok Awang

Jalan Terjal Dua Juara

Permainan Portugal belum berubah. Tetap Ronaldo sentris. Persoalan muncul ketika Ronaldo mandek. Portugal ikut rusak. Seperti laga melawan Jerman.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
AFP PHOTO/Matthias Hangst, Alexander HASSENSTEIN, PHILIPPE DESMAZES, STAFF, PHILIPPE HUGUEN, Pedja MILOSAVLJEVIC, FRANCK FIFE
FOTO Combo searah jarum jam: Ronaldo dan Kylian Mbappe (kiri); momentum pada pertandingan final Euro 2016 yang mempertemukan Perancis kontra Portugal (kanan atas) di Stade de France, Saint-Denis, Paris, 10 Juli; momentum pertandingan Perancis versus Portugal di Marseille pada 23 Juni 1984; momentuk pertandingan Perancis kontra Portugal di Brussel, Belgia, pada semi final Euro 2000, 28 Juni; Pelatih Perancis Didier Deschamps dan Pelatih Portugal Fernando Santos. 

"Mestinya Santos bisa memanfaatkan situasi. Ronaldo, seperti juga Messi, masih ditakuti. Ibarat kata ini, ya, kalok pun cumak main pakek satu kaki, satunya lagi sedang rengkak, tetap enggak bakal ada bek yang kelewat bengak untuk melepas orang itu. Tetap tempel sampek lengket. Kalok perlu pegang tali kolornya. Nah, di saat kayak gini, mestinya Santos menugaskan pemain lain untuk bergerak," kata Lek Tuman.

"Di Jerman kemarin ada Toni Kroos, Pak Kep. Udah hapal kali dia permainan Ronaldo macam mana. Pasti dibisikkannya itu sama bek-bek Jerman," ujar Leman Dogol pula.

"Kalok gitu lebih kaco, lah, Portugal ini lawan Perancis," sambung Sangkot yang kemudian diteruskan Mak Idam. "Iya, di Jerman cumak satu pembisiknya. Di Perancis dua. Varane dan Benzema. Kalok soal hapal-hapalan gerakan, kurasa Si Varane malah lebih hapal ketimbang Kroos. Sering berhadapan orang itu dalam latihan," katanya.

Arah pilihan Lek Tuman, Leman Dogol, Sangkot, dan Mak Idam sepertinya makin mengerucut ke Perancis. Jontra Polta kemudian menambahkan data-data yang membuat mereka merasa makin yakin. Bilang Jon, dari 27 laga sejak tahun 1926, Portugal hanya menang enam kali.

"Dua kali imbang, dan selebihnya, 19 kali, tebuntang mereka. Sembilan belas kali! Banyak itu," katanya sembari tertawa-tawa.

Tok Awang yang masih belum tuntas dengan bawang menyahut. "Iya, memang 19 kali kalah. Tapi jangan lupa kau, Jon. Tiga pertandingan terakhir, Perancis enggak bisa menang. Sekali seri dua kali kalah. Terakhir kalah di final Euro yang lalu."

"Makanya itu, Tok. Pertandingan ini ajang balas dendam," kata Jontra Polta di sela tawa.

Ocik Nensi yang sedari tadi diam akhirnya buka suara. "Ah, balas dendam, balas dendam. Siapa kali rupanya orang itu mau balas dendam? Marah Tuhan. Di dunia ini yang boleh balas dendam cumak Jacky Chan."(t agus khaidir)

Pernah dimuat di Harian Tribun Medan
Rabu, 23 Juni 2021
Halaman 1

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved