Amalan dan Zikir

UAH : 7 Amalan Dahsyat Usai Sholat, Sesuai Alquran dan Hadist

Selepas salam di penghujung shalat (salat), disarankan untuk tidak terburu-buru

Tayang:
Penulis: Dedy Kurniawan | Editor: Dedy Kurniawan
IST
Ustaz Adi Hidayat saat mengisi Tabligh Akbar di YPSA 

فَٱذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لِى وَلَا تَكْفُرُونِ

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.”

UAH menjelaskan, orang yang selalu ingat Allah, maka Allah akan selalu ingat kepadanya. Bahkan ada orang yang pada saat sangat membutuhkan dalam persoalan kehidupan kepada Allah, sebelum ia meminta, karena Allah telah mengingatnya, maka Allah ringankan aktivitas kehidupannya.

“Jadi bukan tidak punya masalah, tapi kelihatannya seperti tidak punya masalah. Karena setiap akan punya masalah, diringankan oleh Allah jadi seolah-olah tidak punya masalah,” tegas UAH.

UAH menambahkan, pada tahapan keenam ini, seseorang bisa menyebut nama Allah atau menyebut Asmaul Husna. Dalilnya adalah QS. Al-Isra ayat 110-111,

قُلِ ٱدْعُوا۟ ٱللَّهَ أَوِ ٱدْعُوا۟ ٱلرَّحْمَٰنَ ۖ أَيًّا مَّا تَدْعُوا۟ فَلَهُ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ ۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَٱبْتَغِ بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا

“Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”.

Ketujuh, aktivitas harian sebagai dzikir paripurna. UAH merujuk pada QS. Ali Imran ayat 190-191, yaitu:

إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَءَايَٰتٍ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”.

ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Menurut UAH, orang-orang yang senantiasa berdzikir baik dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring atau tidur.

“Tidurnya disebut sebagai dzikir, duduknya disebut dzikir, dan berdirinya disebut dzikir. Orang-orang ahli dzikir ini akan dimuliakan oleh Allah ketika kembali ke akhirat nanti dan dipuji-puji Allah subhanahu wa ta’ala,” pungkas UAH.

(*/Tribun-Medan.com)

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved