Viral Medsos

INILAH Vaksin Termurah di Dunia Seharga 2-3 Dollar AS yang Diciptakan Profesor Dame Sarah Gilbert

Sarah Gilbert merupakan profesor vaksinologi di Universitas Oxford, sang penemu vaksin AstraZeneca-Oxford.

Editor: AbdiTumanggor
Kolase tangkapan layar video dan via Kompas.com
Profesor Sarah Gilbert dan ilmuwan Indonesia, Indra Rudiansyah 

Mereka juga merupakan sukarelawan awal untuk uji klinis vaksin Covid-19 Oxford.

Uniknya, saat sang bayi kembar tiga lahir dengan prematur, sang suami, Rob Blundell, rela mengundurkan diri dari tempat bekerjanya.

Hal itu agar bisa mengurus anak-anaknya supaya sang istri tetap bisa melanjutkan pekerjaannya hingga melejit pada saat ini.

Ketika Sarah Gilbert memulai kariernya di Oxford, dia fokus pada malaria sebelum akhirnya beralih ke vaksin flu.

Setelah menjadi profesor vaksinologi pada 2010, dia mulai mengerjakan pendekatan yang mengarah ke ChAdOx1.

Penelitian itu menggunakan adenovirus simpanse yang direkayasa secara genetik untuk membawa elemen virus berbahaya ke dalam sel manusia, yang akan merangsang sistem kekebalan penerima.

Saat Covid-19 muncul, Sarah Gilbert sedang melakukan penelitan tersebut pada beberapa virus seperti Nipah, Lassa, dan Rift Valley.

Gilbert juga memimpin pengembangan dan pengujian vaksin flu universal pada awal tahun 2011 yang memicu produksi sel-T untuk melawan flu.

Dia kemudian memimpin uji coba pertama vaksin Ebola pada tahun 2014, diikuti oleh Sindrom Pernafasan Timur Tengah (MERS).

Dalam sebuah wawancara dengan BBC, Sarah Gilbert mengatakan harus bekerja siang dan malam sejak merebaknya Covid-19.

Ia bahkan bisa mendapat email kerja hingga jam 4 pagi.

Dalam wawancara yang sama, dia juga berbicara tentang pendekatan altruistik untuk memperbaiki situasi. Ia mengatakan, bahwa merasa perlu menggunakan pendekatan yang sama untuk MERS dengan melanjutkan penelitian ketika para ilmuwan China menerbitkan kode genetik virus.

“Sejak awal, kami melihatnya sebagai perlombaan melawan virus, bukan perlombaan melawan pengembang vaksin lain. Kami adalah universitas dan kami berada di sini bukan untuk menghasilkan uang," ujarnya.

Meski menjadi seorang peneliti penting di dunia, ternyata Sarah Gilbert bukanlah orang yang suka menjadi objek perhatian. Ia merupakan sosok yang pendiam, jeli, teliti dalam setiap hal, dan pantang menyerah. Ia juga merupakan wanita dengan pendirian teguh dan tabah.

Ada satu orang asal Indonesia menjadi anggota tim Sarah Gilbert

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved