Cerita Rahudman Harahap Menginisiasi Renovasi Masjid Lapas Tanjunggusta

Mantan Wali Kota Medan, Rahudman Harahap sudah bebas dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas-IA Tanjung Gusta pada Senin (31/5/2021)

Jefri Susetio/Tribun-Medan.com
Mantan Wali Kota Medan Rahudman Harahap bincang-bincang di Program Ngopi Sore Tribun Medan bersama Pemimpin Redaksi Harian Tribun Medan/Tribun-Medan.com. 

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN -  Mantan Wali Kota Medan, Rahudman Harahap sudah bebas dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas-IA Tanjung Gusta pada Senin (31/5/2021) sekira pukul 22.00 WIB. Kini, ia menghabiskan waktu luangnya bersama keluarga besar.

Rahudman Harahap bebas dari penjara setelah Mahkamah Agung (MA) mengabulkan permohonan peninjauan kembali (PK). Putusan MA memerintahkan untuk melepaskan terdakwa Rahudman Harahap dari segala tuntutan hukum.

Dan, memerintahkan penuntut umum segera mengeluarkan terpidana dari masa menjalani pidana. Putusan PK tersebut disambut suka cita bagi pendukungnya serta loyalis Rahudman Harahap yang sudah sangat rindu dengan sosok pria akrab disapa RH ini.

Pada acara Ngopi Sore yang berlangsung di Studio Harian Tribun Medan, Rabu (25/8/2021), Rahudman Harahap membeberkan berbagai aktivitasnya selama di lapas. Satu di antaranya sebagai inisiator renovasi masjid.

Kini, masjid di Lapas Tanjung Gusta itu bisa menampung 2000 jemaah dan dikabarkan sebagai masjid terbesar di dalam lapas di seluruh Indonesia. Bahkan, ia menghabiskan waktu beribadah di dalam masjid tersebut.

Kami banyak dapat cerita Abangda banyak membantu pembinaan warga Lapas. Dan, kami dengar memakmurkan masjid, bagaimana cerita di dalam?

RH: Mungkin Allah menakdirkan saya untuk mengkaji diri di sana (Lapas) dan berbuat membantu di dalam. Baik dari segi agama maupun kehidupan sosial. Saya membantu pembangunan sarana dan prasarana. Seperti membuat pendidikan keagamaan.

Diharapkan bisa memberikan bekal bagi sesama warga binaan, sehingga bila kelak sudah kembali lagi ke tengah masyarakat bisa menjadi pribadi yang bermanfaat. Jadi, jujur saja, saya lebih banyak introspeksi diri.

Lalu, berbuat baik dengan teman-teman semua di dalam. Saya sering mencari solusi dari kesulitan teman-teman dan membantu dengan ikhlas. Tentu saja lewat teguran Allah ini, saya bisa bersabar, bersyukur serta bisa mengendalikan diri.

Apalagi di sana, kehidupan warganya emosi, gampang terbakar, jadi lewat pendekatan agama tidak ada terjadi keributan. Karena itu, saya membuat kelompok-kelompok pengajian serta memakmurkan masjid. Alhamdulillah pihak lapas mendukung program keagamaan tersebut.

Dan, pada 2017 ketika saya baru masuk (lapas) masjid hanya menampung 300 jemaah. Setelah itu, kami melakukan musyawarah dengan teman-teman semua dan kepala lapas setuju untuk melakukan renovasi. Kini, kapasitas masjid sudah bisa menampung 2000 jemaah dan kini terbesar di Indonesia.

Setelah Abangda Makmurkan Masjid Ada Perubahan Teman-teman Warga Binaan di Lapas?

RH: Perubahan dari orang-orang yang sering ibadah ke masjid ini luar biasa lho. Ada seorang narapidana dihukum mati, tapi menjadi tahanan pedamping (tapim) di masjid. Tugasnya, mengatur kebersihan. Jadi sebenarnya hanya ibadah ke masjid yang bisa tenangkan hati. Bisa jadi damai.

Karena itu, perbedaan-perbedaan pendapat di blok tidak menimbulkan keributan. Tidak hanya masjid, tetapi orang yang rajin ke gereja, wihara, semua  harus dekat sama agama dan Tuhan.

Selama Menjadi Wali Kota Medan, Rutinitas Abangda Sangat Padat Namun Dibatasi Secara Fisik dan Intelektual di Dalam, Bagaimana Perasaan Abang Waktu Itu ?

RH : Saya tidak sia-siakan kondisi yang ada waktu itu dan waktu yang saya lalui. Boleh tanya kepada kawan-kawan di sana. Dari situ dapat pelajaran penting sehingga Insya Allah bisa melanjutkan sikapnya. Jujur kalau dekat sama Allah, kita bisa mengaduh dan menyerahkan diri. Mau apalagi? Dorongan keluarga kita dan teman-teman yang membuat saya kuat di sana. Berat lho, semua terbatas di sana. Namanya sudah menjadi warga binaan, semua terbatas.

Akan tetapi, bila bersyukur dan bersabar bisa mengendalikan diri, kendalikan emosi dan bisa tenang. Kalau tidak bisa kendalikan diri bisa habis di sana. Lewat di sana. Memang bisa kita keluar cepat tetapi enggak tahu kemana keluarnya (meninggal dunia). Banyak yang seperti itu. Maka dari itu, saya selalu mengajak teman-teman untuk tenang, sabar saat menghadapi situasi sulit. Pada waktunya kita akan kembali (bebas dari penjara).

Bagaimana Dukungan Keluarga saat Abangda di Dalam ?

RH: Pada waktu itu tidak mudah karena saya harus berpindah-pindah. Saya dari Medan dipindahkan ke Jakarta. Kemudian, dari Jakarta kembali lagi ke Medan. Namun, saya belajar ikhlas. Ikhlas itu yang membuat saya mudah melalui cobaan.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved