Wawancara Eksklusif

Kisah Pilu Ferdinan Tarigan, Korban Longsor Sibolangit Terjepit Selama 2 Jam, Sudah Pasrah Meninggal

Ia berangkat bersama dengan calon istrinya Novita, calon mertuanya Layani, teman dekatnya Armando, dan teman Novita bernama Gusrini.

Penulis: Goklas Wisely | Editor: Royandi Hutasoit
Tribun Medan/Goklas Wisely
Ferdinan Tarigan, korban bencana longsor di Sibolangit terbaring di ruang rawat inap Rindu B RSUP Adam Malik, Senin (25/10/2021) 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Ferdinan Tarigan, korban bencana longsor di Sibolangit akhirnya mampu menceritakan peristiwa naas yang dialaminya pada Sabtu 23 Oktober 2021 silam.

Ferdinan menceritakan awalnya berencana berangkat dari Medan sekitar 06.00 WIB ke Desa Tanjung, Kabupaten Karo untuk ziarah ke makam calon istrinya, Sabtu (23/10/2021).

Ia berangkat bersama dengan calon istrinya Novita, calon mertuanya Layani, teman dekatnya Armando, dan teman Novita bernama Gusrini.

Rombongan ini pun berangkat menggunakan mobilnya merk Xenia dan sampai dengan selamat di Desa Tanjung.

Mereka pulang dari Desa Tanjung sekitar pukul 14.30 di hari yang serupa. Rombongan ini pun sempat merilekskan pikiran di Cafe Para sekitar 30 menit.

Setelah itu, mereka berangkat menuju Kota Medan. Diperjalanan rombongan ini sempat mampir sejenak di pasar buah Berastagi untuk membeli oleh - oleh kepada saudara yang ada di Medan.

GETIR, Ibu dan Putri Satu-satunya Meninggal akibat Longsor Sibolangit, Inilah Pesan Terakhirnya

Fakta Baru Longsor Maut Sibolangit, Ferdinan-Novita Berencana Menikah, Ingin Ziarah dan Minta Restu

Saat itu, arus lalu lintas dikatakannya cukup dipadati pengendara. Saat tiba di sekitar Bandar Baru, Armando ditelpon istrinya untuk menanyakan sudah sampai dimana posisinya.

"Armando bilang masih di Bandar Baru. Kami pun berjalan seperti biasa. Ketika kami di Hill Park, ibu Gusrini menelpon Layani untuk membeli lemang lima rasa di cafe daerah Pancur Batu," katanya.

Armando pun sempat mengatakan kepada Ferdinan untuk diingatkan soal pesanan tersebut. Setelah itu mereka pun tetap berjalan dengan aman.

"Sampai di Cindelaras saya masih sadar. Tiba - tiba kejadian, saya tidak ada mendengar suara gemuruh, atau longsor yang turun," ujarnya.

"Tiba - tiba saya terbangun. Saya mendengar ada jeritan minta tolong dan mengatakan kaki saya pak, kaki saya pak. Baru saya terbangun. Saya berpikir apakah ketiduran atau mimpi," sambungnya.

Ferdinan coba membuka matanya namun hanya kegelapan yang tampak. Terpikirnya langsung ia terkena musibah longsor.

Sentak ia pun berteriak meminta tolong. Tim evakuasi yang hadir pada saat itu langsung datang. Didengarnya suara petugas evakuasi yang mengabarkan masih ada korban yang hidup.

Petugas itu langsung memerintahkan untuk membongkar bongkahan batu dan tanah yang menimpanya.

Halaman
123
Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved