Teri Bajak Melanglang Buana, Kuliner Khas Medan, Jangkau Pasar Indonesia Hingga Eropa
Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara (USU) ini bercerita awal mula dirinya terjun ke usaha Teri Bajak.
Penulis: Ayu Prasandi | Editor: Ayu Prasandi
Windi pun tak menyangka ternyata produk Teri Bajak bisa semakin berkembang dan banyak dikenal tak hanya di Indonesia, bahkan hingga ke luar negeri.
Agar konsumen terutama pelanggan setianya tak kecewa, Windi benar-benar memperhatikan produknya mulai dari bahan baku hingga packagingnya.
Untuk bahan baku, Windi menggunakan Teri Medan kualitas terbaik, begitu juga dengan bahan lain seperti bumbu yang semuanya bebas dari pengawet.
Teri Medan menawarkan beberapa produk yang dikemas mulai dari Teri Sambal Merah ukuran 150 gram yang dijual dengan harga Rp 45 ribu, Teri Kacang Sambal Merah ukuran 150 gram dijual dengan harga Rp 45ribu, Teri Original ukuran 200 gram dijual Rp 60 ribu, hingga Teri mentah yang dijual mulai Rp 35 ribuan.
“Semua produk diproduksi dengan bahan yang benar-benar bagus dan pastinya dijamin tanpa pengawet, jadi sangat aman dikonsumsi siapa saja,” jelas Windi.
Baca juga: Lowongan Kerja Medan, JNE Buka Loker Sebagai Staff Mitra Delivery, Terbuka untuk D3 Semua Jurusan
Berkah Ikuti Program UMKM JNE
Windi Septia Dewi mengatakan, Teri Bajak semakin dikenal banyak orang tak terlepas dari berbagai kegiatan tentang Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang diikutinya, seperti yang diadakan JNE.
“Senangnya menggunakan jasa JNE sebagai pengiriman, tak hanya sekadar itu saja, tapi JNE juga mengajak UMKM seperti saya untuk mengembangkan usaha,” tutur Windi.
Windi banyak mendapatkan ilmu baru bagaimana agar usahanya semakin berkembang dan banyak dikenal saat mengikuti pelatihan UMKM dari JNE.
“Saat itu saya mengikuti pelatihan UMKM dari JNE bersama puluhan UMKM lainnya se-Indonesia di Jakarta dengan coach-nya pakar digital Dewa Eka Prayoga. Banyak sekali ilmu yang saya dapatkan, karena tak hanya sekadar teori, tetapi ada sesi yang interaktif dan suasana benar-benar hidup,” cerita Windi.
Dewa Eka Prayoga menjelaskan bagaimana berbisnis di dunia digital yang harus menggunakan strategi. Karena tanpa strategi, maka bukan hanya tidak mendapatkan hasil tetapi juga bisa merugi.
“Saat mengikuti program itu, saya benar-benar mendapat ilmu baru dan membuka wawasan sehingga semakin semangat mengembangkan bisnis saya terutama dengan memanfaatkan digital,” tutur Windi.
Windi langsung mempraktekan semua hasil dari seminar yang diikutinya tersebut. Menggunakan strategi yang tepat agar produknya semakin dikenal banyak orang di seluruh Indonesia, bahkan dunia.
Tak dipungkiri Windi, pandemi Covid-19 yang melanda dunia termasuk Indonesia berdampak besar pada usahanya. Namun ia tak mau terpuruk dan harus bangkit agar usaha yang telah dirintisnya sejak dulu tak sia-sia.
Windi juga selalu bekerja keras dan tak lupa berdoa serta berbagi kepada yang membutuhkan agar usahanya selalu berjalan dengan seimbang dan baik.
Baca juga: JNE Bersama UMKM Bangkitkan Ekonomi Digital untuk Indonesia
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Windi-Septia-Dewi-Pemilik-Teri-Bajak.jpg)