Kasus Perceraian

Angka Perceraian di Kota Siantar Meningkat, Berikut Analisis Psikolog

Angka perceraian di Kota Siantar meningkat tajam dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ini kata pengamat

Tayang:
Penulis: Alija Magribi | Editor: Array A Argus
ist
ilustrasi perceraian 

TRIBUN-MEDAN.COM,SIANTAR- Angka perceraian di Siantar mengalami lonjakan parah pada tahun 2021 kemarin.

Hal itu diketahui dari perkara permohonan perceraian yang diterima Pengadilan Negeri (PN) Siantar, yaitu 87 kasus.

Padahal sebelumnya di tahun 2020, permohonan untuk bercerai yang datang ke PN Siantar hanya 58 kasus. Artinya terdapat lonjakan nyaris 50 persen.

Rahmat Hasibuan, Humas PN Siantar menyebut faktor utama perceraian didominasi karena tidak adanya kesepahaman lagi sehingga terus mengalami cekcok.

Baca juga: Angka Perceraian di Siantar Tinggi, Jumlah Janda dan Duda Bertambah Banyak

"Berlanjut dengan masalah ekonomi dan salah satu pihak meninggalkan pasangan," kata Rahmat.

Menanggapi fenomena perceraian di Siantar ini, psikolog ternama Sumut, Dra Irna Minauli mengatakan, kebiasaan serba instan pasangan menjadi salah satu penyebab sehingga banyak yang menjadi kurang sabaran setiap kali menghadapi permasalahan. 

"Mereka beranggapan bahwa ketika ada masalah maka jalan keluar yang paling mudah adalah dengan bercerai. Padahal perceraian juga sering memberi banyak masalah lain terutama dampaknya terhadap anak," kata Irna.

Secara teoretis, kata Irna, dalam jangka panjang; anak-anak korban perceraian maka ketika mereka menikah, kemungkinan besar akan berakhir dengan perceraian juga. 

Baca juga: Padahal Baru Rayakan 9 Tahun Nikah, Olla Ramlan Mendadak Curhat Perceraian: Kalau Pun Aku Bertahan

Dengan meningkatnya angka perceraian saat ini, diprediksikan generasi berikutnya yang bercerai akan semakin meningkat. 

"Tidak mustahil nanti akan menyamai angka perceraian seperti di Amerika dan negara-negara Skandinavia di mana perceraian mencapai 50 persen.

Perkawinan menjadi semacam judi, kalau tidak bertahan ya kemungkinan akan bercerai," katanya.

Direktur Minauli Consulting ini menjelaskan, saat ini banyak hubungan rumah tangga yang dibangun dengan nuansa bak api dalam sekam.

Ia menyebut, pasangan suami istri berada dalam kondisi seolah tidak ada masalah, tapi sebenarnya mereka menyimpan konflik atau permasalahan-permasalahan yang tidak dapat diselesaikan dengan baik.

Baca juga: 2 Kali Rumah Tangganya Gagal, Artis Cantik Ini Nyaris Bunuh Diri, Perceraian Bikin Depresi Berat

"Modal cinta saja tidak cukup. Menurut Sternberg dalam bukunya “Triangular of Love”, cinta itu memiliki tiga komponen yaitu: passion (gairah), intimacy (keakraban) dan commitment (kesetiaan)," cetus Irna.

"Seringkali pada saat seseorang menikah, mereka sering melupakan ketiga aspek tersebut sehingga cinta akan kehilangan maknanya," tambah Irna.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved