Lebih Penting Baju Branded Ketimbang Makan, Komunitas 'Aneh' di Negara Miskin Afrika

Sebuah komunitas di negara Afrika dianggap aneh. Komunitas ini lebih mementingkan pakaian branded ketimbang kebutuhan hidup. 

Tayang:
Ist
Seorang pria Sapeur mengenakan jas dan pakaian necis yang bermerek. Ia adalah bagian dari La Sape, komunitas yang memilih bergaya branded daripada makan 

Mereka memamerkan busana yang mereka kenakan dan saat itulah mereka saling bersaing lewat pakaian mahal mereka.

Baca juga: KESAKSIAN Warga Rumah Hancur Akibat Gempa Dahsyat Banten Hingga Ngaku Jari Kakinya Hilang Satu

Baca juga: Hubungan Israel dengan Indonesia Mulai Hangat, Prabowo Ngomong Tentang Ketahanan Pangan

Lantas bagaimana mereka di mata masyarakat yang lainnya?

Ternyata warga di luar La Sape menganggap Sapeurs berpenampilan baik.

Bocah berumur 5 tahun sudah masuk dalam komunitas La Sape di Kongo
Bocah berumur 5 tahun sudah masuk dalam komunitas La Sape di Kongo

Namun itu saja, mereka hanya mendapat pengakuan jika mereka keren, tidak ada hadiah bagi sosok yang pakaiannya paling bagus.

Menyedihkannya, karena pakaian mereka yang sangat kontras dengan sekitar mereka membuat mereka dielu-elukan di tempat umum, seperti yang dialami oleh Maxime Pivot.

Maxime Pivot pernah menyandang predikat Sapeurs terbaik, dan ketika ia datang ke pasar, para pedagang menyorakkan namanya.

Ia sudah seperti selebritas, dan para pedagang menyalami serta berusaha memegangnya.

Ada juga Severin Muengo yang di jalan kerap diikuti oleh anak-anak yang memanggil namanya.

Ia mengatakan ia bangga akan itu dan merasa menjadi orang terkaya dan pakaian mahal membuatnya merasa seperti di surga.

Muengo dengan bangga memamerkan karung-karung berisi dasi dan syal serta puluhan setelan jas yang menggantung di empat sisi dinding ruang penyimpanan baju di rumahnya.

Ia mengaku meminjam uang sebesar USD 6.000 - 8.000 untuk membeli baju bermerk (Rp 86 juta - Rp 115 juta).

Namun ia tidak mengatakan gaya hidupnya sebagai Sapeur atau uang yang ia pinjam dari bank untuk membeli pakaian-pakaian mahal itu kepada keluarganya.

La Sape telah berlangsung sejak akhir tahun 1980-an, seperti dilansir dari New York Times, harga busana Sapeurs rata-rata tiga kali lipat lebih besar dari penghasilan bulanan mereka.

Bagi Sapeurs yang tidak mampu membeli busana, ada jasa penyewaan baju, sedangkan untuk yang punya uang biasa membeli baju di sebuah toko yang menjual barang bermerek asal Paris contohnya Yves Saint Laurent atau Yohji Yamamoto.

Toko itu biasanya dimiliki oleh seorang Sapeurs yang kerap datang ke Paris guna memborong busana untuk dijual kembali.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved