Lebih Penting Baju Branded Ketimbang Makan, Komunitas 'Aneh' di Negara Miskin Afrika
Sebuah komunitas di negara Afrika dianggap aneh. Komunitas ini lebih mementingkan pakaian branded ketimbang kebutuhan hidup.
TRIBUN-MEDAN.com - Sebuah komunitas di negara Afrika dianggap aneh. Komunitas ini lebih mementingkan pakaian branded ketimbang kebutuhan hidup.
Padahal, anggota komunitas ini merupakan warga dengan kehidupan miskin.
Mari lebih mengenal orang-orang Sapeurs sebuah julukan bagi komunitas La Sape.
Mungkin bagi Anda lebih memilih makanan ketimbang fashion. Namun berbeda dengan ini.
Tanpa makan orang tidak bisa mendapatkan energi dan tidak bisa beraktivitas.
Fashion bukanlah kebutuhan primer meskipun pakaian juga termasuk kebutuhan primer.
Sayangnya, hal ini berbeda dengan pola pikir kelompok masyarakat di suatu sudut dunia, tepatnya di Kongo.
Kemiskinan di negara Kongo sudah cukup parah.
Di negara yang tergolong miskin ini, warga harus susah payah mendapatkan air bersih walaupun mereka hidup di dekat sungai Kongo.
Sapeurs adalah julukan bagi komunitas La Sape, singkatan dari Société des ambianceurs et des personnes elegantes atau Society of Atmosphere-setters and Elegant People, sebuah komunitas pecinta fesyen, seperti dikutip dari film dokumenter The Congo Dandies dari Russia Today (RT).
Para Sapeurs ini juga tidak punya pasokan air di rumahnya, tapi selama mereka memiliki baju bermerk seperti Yves Saint Laurent atau Dolce & Gabbana, mereka tidak peduli dengan hal yang lain.
Satu hal yang mereka pikirkan adalah tampil dengan gaya.
Para Sapeurs berjalan di kawasan kumuh Brazzaville dengan setelan jas warna warni, topi, sepatu kulit, kacamata hitam serta payung.
Mereka meniru gaya para pria kelas atas Eropa yang mengenakan busana dan aksesori dengan material dan potongan yang tepat.
Kemudian tiap akhir pekan mereka para Sapeurs berkumpul di tepi jalan yang dipadati pedagang kaki lima.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Komunitas-La-Sape.jpg)