Lebih Penting Baju Branded Ketimbang Makan, Komunitas 'Aneh' di Negara Miskin Afrika
Sebuah komunitas di negara Afrika dianggap aneh. Komunitas ini lebih mementingkan pakaian branded ketimbang kebutuhan hidup.
Pendapat lain menyebut La Sape dibentuk oleh Papa Wemba, musisi Kongo yang ingin tampil beda dari musisi lain.
Oleh karena itu ia berbelanja barang bermerek di kota Paris dan tampil gaya dalam busana ribuan dolar.
Selain menyanyi, ia kerap berpesan kepada kaum muda agar selalu tampil rapi dan bersih.
Kepopuleran Papa Wemba jadi salah satu pengaruh utama bagi kelangsungan La Sape.
Para Sapeur mengidolakan Papa Wemba
Pivot meneruskan semangat Papa Wemba dengan mendirikan kursus calon Sapeurs di Kongo.
Namun tidak semua Sapeurs nyaman dengan gaya mereka.
Seorang Sapeur dari Kinshasa yang pindah ke London, Aime Champagne, mengatakan ia tidak mau lagi berpenampilan layaknya orang kaya ketika ia serba kekurangan.
Namun ia tetap terpaksa melakukannya agar tidak mendapat protes dari rekan-rekannya di Kongo.
Pada Aljazeera Charlie Schengen, Sapeur yang juga tinggal di London berkata bahwa La Sape telah membuat ia merasa kehilangan tradisi Kongo.
“Ini sebuah kebodohan. Orang tidak mau sekolah dan hanya ingin belanja baju.”
Baca juga: Hutan Keramat Indonesia, Penghuninya Perempuan Tanpa Busana, Warga Masih Jalani Tradisi Ini
Baca juga: Ritual Lompat Banteng Tanpa Pakaian, Pria Suku Ini Boleh Menikahi 4 Wanita Sekaligus
(*/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Komunitas-La-Sape.jpg)