TRIBUNWIKI

Tuak, Minuman Tradisional yang Ternyata Miliki Makna Ini Bagi Masyarakat Batak Toba

Sejatinya, tuak merupakan bagian  dari adat Batak yang disajikan bagi para raja. Dalam tradisi Batak Toba, para raja yang tengah berdiskusi.

Tayang:
Penulis: Maurits Pardosi | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/ARJUNA BAKKARA
Penyadap aren 'Paragat Tuak' dari berbagai penjuru di Kawasan Danau Toba bertarung pada festival Paragat di Open Stage, Parapat, Sabtu (6/6/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com, TOBA - Tuak adalah minuman tradisional yang tidak dapat dipisahkan dalam tradisi Batak Toba atau masyarakat Batak di Sumatera Utara.

Meskipun bagian dari budaya, namun ada juga pihak yang menentang bahaya tuak yang bisa memabukkan.

Sejatinya, tuak merupakan bagian  dari adat Batak yang disajikan bagi para raja.

Dalam tradisi Batak Toba, para raja yang tengah berdiskusi, tuak akan disajikan.

Sampai saat ini, minuman yang dihasilkan dari pohon aren ini masih digandrungi masyarakat Batak Toba yang tinggal di kawasan Danau Toba.

Baca juga: 3 Warisan Tak Benda Suku Pakpak, Ada Genderang Sisibah hingga Kuliner Pelleng

Dari berbagai sumber, Marco Polo usai petualangannya pada tahun 1290 telah mencatat bahwa masyarakat Batak Toba sudah gemar minum tuak.

Namun terdapat salah satu legenda Batak yang dapat menjadi rujukan mengenai tuak di Sumatera.

Legenda tersebut disebut sebagai legenda bagot (aren) yang dipercayai sebagai pohon mistis.

Ternyata, masyarakat Suku Batak Karo sudah­ memanfaatkan sagu bagot untuk pembiakan semacam ulat sagu untuk dijadikan bahan makanan.

Makanan yang berbahan dasar ulat asal Sumatera tersebut disebut dengan kidu-kidu dan memiliki protein sangat tinggi.

Kemudian, batang pohon sagu yang keras biasa digunakan sebagai titian anak sungai. Batang tersebut juga biasa digunakan sebagai penyaluran air ke sawah-sawah.

Baca juga: Resep Nugget Makaroni Empuk, Camilan Enak yang Murah Meriah dan Mudah Dibuat

Kemudian buah dari aren dimanfaatkan sebagai bahan makanan atau yang biasa disebut kolang-kaling.

Selanjutnya, bagian pohon bagot yang menjadi bahan utama pembuatan tuak ada pada tangkai bunga jantan yang gagal jadi buah.

Oleh para penyadap, bagian tersebut dimanfaatkan untuk diambil tetesan air. Masyarakat Batak menyebut tetesan tersebut sebagai “air susu Dewi Siboru”. Sehingga, pohon aren dikenal sebagai pohon pemberi hidup.

Seorang pemilik pohon aren sekaligus penjual tuak di Balige, Tiurlan Napitupulu sampaikan soal tuak bagi masyarakat sekitar.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved