News Video
70 Pria Jepang Rela Dikirim untuk Bantu Militer Ukraina Lawan Rusia
Seorang Juru Bicara Kedutaan Besar Ukraina di Jepang mengaku menerima telepon dari beberapa orang yang ingin berjuang untuk Ukraina.
Pemerintah Jepang mengatakan kepada warganya untuk menunda perjalanan ke Ukraina dengan alasan apa pun.
TRIBUN-MEDAN.COM - Serangan militer Rusia ke Ukraina masih berlangsung hingga saat ini.
Untuk membantu militer Ukraina , 70 pria asal Jepang secara sukarela mendaftarkan diri untuk terjun melawan invasi Rusia.
Di antara 70 orang tersebut, 50 orang di antaranya adalah mantan anggota pasukan bela diri Jepang.
Baca juga: Youtube Blokir Iklan dan Monetisasi Rusia, Dikabarkan Facebook Juga Melakukan Hal Serupa
Dikutip dari Kompas.com, melalui sebuah perusahaan Tokyo yang menangai para sukarelawan, pada Sealsa (1/3/2022), sekitar 70 pria jepang melamar untuk terjun membantu Ukraina.
50 di antara orang tersebut adalah mantan pasukan bela diri Jepang dan dua veteran Legiun Asing Perancis.
Seorang Juru Bicara Kedutaan Besar Ukraina di Jepang mengaku menerima telepon dari beberapa orang yang ingin berjuang untuk Ukraina.
Namun mereka tidak memiliki informasi lebih lanjut mengenai info para sukarelawan yang mendaftar.
Kedutaan Besar tersebut melalui unggahan di media sosial pada 28 Februari berterima kasih kepada orang Jepang atas banyaknya pertanyaan sukarelawan.
Dalam unggahan itu pula, mereka menuliskan bahwa setiap kandidat yang ingin bergabung harus memiliki pengalaman di Pasukan Bela Diri Jepang atau telah menjalani pelatihan khusus.
"Setiap kandidat untuk ini harus memiliki pengalaman di Pasukan Bela Diri Jepang atau telah menjalani pelatihan khusus," kata Kedutaan Besar Ukraina di Jepang dalam unggahan tersebut.
Baca juga: Fakta Tentang Pesawat Raksasa Terbesar di Dunia milik Ukraina yang Dihancurkan Rusia
Kedutaan Besar tersebut juga mengatakan sedang mencari sukarelawan dengan pengalaman medis, IT, komunikasi, atau pemadam kebakaran.
Namun informasi tersebut tidak jelas apakah posisi sukarelawan akan benar-benar diterjunkan ke Ukraina atau hanya bekerja secara remote.
Sebelumnya, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada Minggu (27/2/2022) menyerukan pembentukan legiun internasional.