TRIBUNWIKI

DERETAN Duta Besar Berdarah Batak Berprestasi, Ada yang Mendapatkan Medali Penghargaan Bergengsi

Dubes juga berperan menjadi perwakilan diplomatik Indonesia di wilayah negara kerjasama dalam mewakili dan memperjuangkan kepentingan bangsa.

Tayang:
Penulis: Tria Rizki | Editor: Ayu Prasandi
HO
Duta Besar Berdarah Batak 

Selanjutnya, dia menjabat sebagai Komisaris Independen untuk Siloam Hospitals sebagai pembina untuk Yayasan Doktor Sjahir dan menjabat sebagai Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Sumatera Utara (USU) periode 2020 hingga 2025

Baca juga: SOSOK Christine Panjaitan, Artis Era 80an yang Berdarah Batak, Terlihat Awet Muda di Usia 62 Tahun

3. Ratlan Pardede

Ratlan Pardede lahir di Balige (4 Juli 1962), adalah adalah Duta Besar Indonesia untuk Tanzania, Rwanda, Comoros, Burundi.

Ratlan alumni dari Institut Pertanian Bogor tahun 2005 yang meraih gelar Doktor Prodi Ekonomi.

Ratlan  adalah satu diantara putra Batak Toba yang mengawali karirnya sebagai Pembantu Dekan, Pembantu Rektor, Direktur Pasca Sarjana hingga November tahun 2011 di Mpu Tantular University.

Dosen di Universitas Bunda Mulia, Ketua Bidang Ilmiah dan Dokumentasi Aptisi wilayah III APTISI, dan Guru Besar Bidang Ilmu Ekonomi dan Manajemen tahun 2007.

Dan di tahun 2011 hingga 2015, dia menjabat sebagai Rektor Universitas Mpu Tantular tahun 2011 hingga 2015.

Berkat kerjakerasnya pada masa pemerintahan Presiden Jokowi, Ratlan dipercaya menjabat sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Tanzania.

Baca juga: PENYANYI Dangdut Berdarah Batak yang Sukses di Panggung Hiburan, Ada yang Populer di Negeri Jiran

4. Sabam Siagian

Sabam Pandapotan Siagian lahir di Jakarta (4 Mei 1932), adalah Duta Besar Indonesia untuk Australia tahun 1991 hingga 1995.

Sabam adalah alumni dari Universitas Indonesia jurusan hukum dan ilmu sosial, dia juga pernah mengikuti program Nieman Fellow for Journalism dari Harvard University, Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat.

Sabam  adalah satu diantara putra Batak Toba yang mengawali karirnya dengan mengelola majalah miliki Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) dan pernah menjadi wartawan Indonesia dengan jabatan sebagai Presiden Komisaris dan The Jakarta Post.

Di tahun 1950, dia ikut dalam menggagas pendirian Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia dan melanjutkan pekerjaannya di bagian riset perwakilan Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta berhasil dalam menyandang tanda kehormatan bintang jasa utama.

Dia juga tercatat sebagai wartawan yang konsisten terhadap kode etik jurnalistik dan tak pernah kompromi dalam menegakkan prinsip jurnalisme yang pernah menjadi wartawan di koran Sinar Harapan pada era Orde Lama.

Dengan konsistennya di bidang jurnalistik, Sabam berhasil mengharumkan dunia jurnalistik dan tanah kelahirannya di Batak dengan terpilih menjadi Duta Besar Indonesia untuk Australia periode 1967 hingga 1973.

Dia juga pernah menjabat sebagai Presiden Komisaris dan The Jakarta Post dan termasuk dalam Dewan tajuk Rencana dan menjadi Ketua Indonesia-Australia Business Council selama beberapa waktu.

(cr16/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved