Kasus Nasabah Bank Dianiaya
KETIKA Bos Bank Aniaya Nasabah hingga Ancam Tembak Mati
Dikutip dari Tribun Solo (Grup Tribun Medan), dari tiga tersangka yang sudah ditahan, hanya dua yang dihadirkan.
Saat itu, H juga sempat mengeluarkan pistol.
"Dia bilang 'mau mati kalian? Atau mau dibuang ke kali?' Tapi istrinya saat itu melarang. Tidak ditodong, senjatanya cuma diacungkan ke atas," kata Sularti yang juga diiyakan oleh Ramli Hastuti.
Pasca kejadian itu, keduanya sempat berencana melaporkan hal tersebut. Namun mereka urung melapor karena Sularti mendapat kBar bahwa pihak bank plecit sudah mengetahui apa yang akan dilakukannya.
"Setelah itu saya takut. Suami saya juga minta tidak usah melawan (oknum bank plecit)," paparnya.
Lebih jauh, pendamping korban dugaan penganiayaan oleh oknum bank plecit yang berlokasi di Sidoharjo, Tri Haryanto, mengatakan pihaknya sudah mendapatkan informasi ada korban dugaan penganiayaan lainnya. "Nanti kita kroscek dulu. Saat ini kami juga mengapresiasi Polres Wonogiri yang sudah melakukan tindakan," jelas Tri.
Identitas Bos Bank Plecit
Polres Wonogiri mengamankan tiga karyawan bank plecit yang diduga melakukan penganiayaan terhadap nasabah ibu hamil. Kasatreskrim Polres Wonogiri, AKP Supardi, mengatakan tiga orang yang ditahan yaknu satu berjenis kelamin laki-laki dan dua lainnya perempuan.
"Ketiganya sudah kita tahan dan kita proses. Kita tahan sejak Selasa pagi," kata Kasatreskrim.
Dia membeberkan, identitas ketiganya yakni R yang diketahui sebagai pemilik bank plecit, I yang merupakan istrinya dan satu orang perempuan dengan inisial S. "Meraka kini mendekam di balik jeruji besi Polres Wonogiri," aku dia.
Kapolres Wonogiri, AKBP Dydit Dwi Susanto menambahkan, pihaknya akan terus bekerja untuk memperkuat bukti maupun saksi dalam kasus tersebut.
"Kita sedang running, kita sudah memasuki proses pemeriksaan ke sejumlah saksi yang mengetahui dugaan tindak pidana tersebut," kata dia.
Kapolres menjelaskan, sudah ada lima saksi yang dimintai keterangan terkait kasus tersebut. Kelima saksi itu merupakan korban dugaan penganiayaan oleh oknum bank plecit.
Menurutnya, hingga saat ini proses tersebut masih berjalan. Pihaknya melakukan penyelidikan dan pendalaman terkait keterangan para saksi.
"Sudah kita minta keterangannya semua, termasuk dengan beberapa orang yang merasa resah dan diancam oleh oknum bank plecit itu," terang dia.
Sementara itu, korban dugaan penganiayaan oleh oknum bank plecit di Wonogiri yang sempat menjalani rawat inap di rumah sakit, kini sudah diperbolehkan untuk pulang.
Salah satu korban tersebut adalah Nanik Haryani. Kepada TribunSolo.com, dia mengaku awalnya merupakan nasabah, namun belum lama ini, ia dipercaya menjadi perantara untuk mencarikan nasabah.
Dia mengatakan, jika ada nasabah yang telat membayar angsuran, maka Nanik lah yang pertama kali diminta untuk mencari dan menagih para nasabah itu.
"Batas angsurannya kan jam 10.00, kalau ada yang telat saya yang pertama dicari dan menagih," kata dia di rumahnya di wilayah Kecamatan Girimarto.
Nanik menceritakan, saat terjadinya penganiayaan itu pada Senin (31/1/2022) lalu, dia berangkat ke rumah yang menjadi lokasi penganiayaan di waktu usai Maghrib. Saat itu, dia didatangi sejumlah orang diantaranya adalah bos bank plecit itu, yakni R bersama dengan S dan dua orang lain.
Di lokasi kejadian, kata dia, langsung disambut caci maki oleh oknum bank plecit. Dia juga langsung menerima jambakan oleh S dan tendangan oleh R.
"Saya ditendang di kepala belakang bagian kiri, pundak kiri dan kaki. Saat di rumah sakit, kaki saya pun masih pincang. Ini di kepala juga masih terasa sakit," jelasnya.
Selain itu, ia juga mendapatkan pukulan di perut oleh pria yang disebutnya sebagai H. Istri dari R pun juga sempat menyeret dengan menarik jaket miliknya. Total ada 4 orang yang menganiaya.
Nanik pulang dari lokasi kejadian pada Selasa (1/2/2022) dini hari. Sore harinya, ia kembali dipanggil oleh oknum bank plecit tersebut, namun dia mendapat perlakuan berbeda.
Kendati demikian, dia belum diperbolehkan pulang dan tak boleh menghubungi siapapun lewat handphone. Bahkan dia juga sempat disuruh untuk makan.
Di hari itu, dia juga sempat dibawa ke sejumlah lokasi, mulai dari klinik dan rumah sakit. Baru pada Rabu (2/2/2022) dia dibawa oleh suaminya ke rumah sakit untuk menjalani perawatan.
"Saat di rumah sakit, saya sempat ditelepon oleh nomor asing. Tapi tidak saya angkat," ujar Nanik.
Disisi lain, Nanik mengaku saat kejadian penganiayaan itu, dia sedang hamil muda dari hasil satu tes pack yang dilakukannya dan dinyatakan positif.
Namun, alat tersebut kini sudah tidak ada. Dia pun merasa mengalami keguguran karena mengeluarkan gumpalan darah usai mengalami penganiayaan.
Sementara itu, dia mengaku pada Selasa (15/2/2022) akan menjalani pemeriksaan oleh polisi.
Besar harapannya agar kasus ini ditangani hingga tuntas.
Alami Keguguran
Kesaksian demi kesaksian diungkapkan korban penganiayaan bank plecit di Kabupaten Wonogiri. Suami korban, Hartanto menerangkan, istrinya Nanik Haryani saat dianiaya sedang hamil satu bulan karena telat menstruasi.
Bahkan, saat itu istrinya sudah membeli test pack dan melakukan tes hasilnya positif hamil.
"Pakai satu test pack. Hasilnya keluar garis dua," kata Hartanto kepada TribunSolo.com, Jumat (4/2/2022).
Meskipun begitu, Hartanto mengaku bahwa saat ini alat tersebut sudah tidak ada.
Menurutnya, ada kemungkinan alat tersebut sudah dibuang di tempat sampah.
Istrinya juga belum sempat memeriksakan diri ke bidan atau dokter terkait kehamilan dari hasil tes test pack.
"Biasanya istri saya kalau hamil, dua bulan baru ke bidan. Tiga kali begitu, kan anak kami tiga orang," aku Hartanto.
Sementara itu, dia juga meyakini dugaan istrinya telah mengalami keguguran pada Selasa (1/2/2022) lalu. "Itu berdasarkan pengakuan sang istri," aku dia.
Usai mengalami penganiayaan, kata dia, sang istri mengeluarkan gumpalan darah. Setelahnya, istrinya merasa sakit perut dan dirawat di rumah sakit.
Sementara itu, dia tak mengetahui secara pasti bagaimana istrinya dianiaya. Pasalnya saat kejadian dirinya sedang berada di rumahnya.
"Paginya saya lihat kok kakinya seperti pincang begitu," kata dia.
Di sisi lain, menurutnya istrinya biasa mencarikan nasabah untuk bank plecit itu. Kemudian para nasabah meminjam uang dari bank plecit. Yang pasti, kata dia, dirinya tak terima dengan perlakuan kepada istrinya yang diduga dianiaya oleh oknum bank plecit tersebut.
"Saya tidak terima, kalau istri dibegitukan. Kan pasti nggak terima," aku dia.
Kapolres Wonogiri, AKBP Dydit Dwi Susanto, menegaskan pihaknya masih mendalami kasus tersebut.
Polisi pun masih menunggu para korban yang sedang menjalani rawat inap di rumah sakit untuk sembuh terlebih dahulu.
"Kami tetap akan proses siapapun pelakunya nanti jika terbukti bersalah dan melanggar hukum," tegas dia.
Bupati Murka
Sebanyak tiga warga Wonogiri diduga menjadi korban penganiayaan yang dilakukan oleh oknum bank plecit pada Senin (31/1/2022) lalu. Bahkan, dua korban diantaranya harus menjalani perawatan di rumah sakit akibat penganiayaan yang dilakukan.
Bupati Wonogiri, Joko Sutopo, mengecam keras atas kasus dugaan penganiayaan yang dilakukan kepada warganya tersebut oleh oknum bank plecit.
Terlebih, menurutnya bank plecit adalah lembaga keuangan yang ilegal dan tidak berizin. "Dugaan penganiayaan itu sangat tidak manusiawi dan mengangkangi hukum, saya mengecam keras," tegas Joko Sutopo kepada TribunSolo.com, Jumat (4/2/2022).
"Kita tidak mentoleransi kegiatan yang meresahkan ataupun tindakan arogan. Apalagi kalau sampai berpotensi menimbulkan korban jiwa. Ini yang harus diantisipasi," kata Jekek.
Ketua DPRD Wonogiri, Sriyono, mengaku sedih dan menyayangkan atas dugaan kasus penganiayaan yang dilakukan oleh oknum bank plecit itu.
Menurut Sriyono, di tengah kondisi pandemi Covid-19 seperti ini, semestinya semua pihak harus bersinergi untuk membangkitkan ekonomi.
Dia menjelaskan, pemerintah perlu menata sistem keuangan yang menyangkut kepentingan masyarakat.
Terlebih pernah ada kasus ibu yang depresi hingga bunuh diri karena teror yang dilakukan oleh pihak pinjaman online di Giriwoyo beberapa waktu lalu.
"Semuanya kan ada regulasinya. Maka negara harus hadir menata kembali sendi-sendi ekonomi rakyat," kata dia.
(*/tribun-medan.com/tribunsolo.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Bos-bank-aniaya-nasabahnya.jpg)