TRIBUNWIKI

5 Masjid di Medan Ini Ternyata Sudah Berumur Satu Abad, Ada yang Pernah di Bom Inggris

Namun ternyata, ada beberapa masjid yang juga merupakan peninggalan bersejarah. Beberapa masjid tersebut memiliki sejarah panjang.

Tayang:
Penulis: Anugrah Nasution | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/RECHTIN
MASJID Perjuangan 45 Jalan HM Yamin Medan, masjid peninggalan Tengku Matseh yang dibangun tahun 1928 

Jika kita melongok kesana, kita akan melihat ukiran bangunan bergaya India, pintu dan jendela masjid bergaya Tionghoa.

Arsitektur bangunan minimalis seperti yang ada di Eropa dan ukiran kaligrafi ala Timur Tengah. 

Di Masjid ini juga terdapat kubah kubah masjid berukuran besar yang terbuat dari tembaga yang sudah berusia seratus tahun. 

Tak hanya itu, di masjid Al Osamani juga ada beduk berusia 153 tahun yang sudah digunakan sejak tahun 1870.

Selain beduk, tempat wuduk dan mimbar masjid pun telah berusia sama dan masih lestari.

"Saat ini Masjid Al Osamani sudah didaftarkan sebagai cagar budaya oleh Pemko Medan sebagai salah satu warisan sejarah. Dan sampai saat ini kelestarian masjid Al Osamani akan terus dirawat," ujar Kepala Kenaziran Masjid Al Osamani, Ahmad Fansuri. 

Baca juga: Safari Ramadan, Aulia Rachman Apresiasi Upaya Masjid Al Hasanah Dalam Membina Generasi Muda

2. Masjid Kedatukan Sunggal

Masjid Kedatukan Sunggal yang dibangun Raja Badiuzzaman Surbakti yang kini telah berusia 137 tahun.
Masjid Kedatukan Sunggal yang dibangun Raja Badiuzzaman Surbakti yang kini telah berusia 137 tahun. (TRIBUN MEDAN/Anugrah Nasution)

Masjid Kedatukan Sunggal merupakan bangunan masjid tertua yang menyimpan bila sejarah di Kota Medan.

Masjid ini telah dibangun pada tahun 1885 oleh seorang raja Sunggal yakni Raja Serba Nyaman atau dikenal luas dengan sebutan Datuk Diraja Badiuzzaman Sri Indra Pahlawan Surbakti  raja ke VII dari Kerajaan Sunggal. 

Masjid itu bukan saja simbol perjalanan islam di tanah Melayu, namun lebih jauh, Masjid Badiuzzaman memperlihatkan nilai nilai perlawanan terhadap kolonialisme bangsa Belanda kala itu. 

Badiuzzaman adalah salah raja yang memimpin perang Sunggal yang terjadi antara 1872 sampai dengan 1895.

Perang itu adalah salah satu perang paling lama yang melibatkan antara kerajaan Sunggal dengan Belanda. 

"Sejak awal nama masjid ini adalah Masjid Raya Kedatukan Sunggal yang diresmikan oleh Raja masa itu yakni Satu Badiuzzaman pada tahun 1885. Namun oleh masyarakat luas dikenal dengan nama Masjid Badiuzzaman," ujar Ketua Kenaziran Masjid, Datuk Indra Jaya kepada Tribun.

Masjid Badiuzzaman sendiri terletak di Jalan PDAM Sunggal, Kecamatan Sunggal, berdampingan dengan instalasi PDAM Tirtanadi. 

Di Masjid inilah dahulunya para pejuang dari Kerajaan Sunggal berkumpul dan bermusyawarah untuk melawan penjajahan Belanda. 

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved