Breaking News:

Pencabulan

OKNUM ASN Puskesmas yang Cabuli Siswi SMA Dihukum 7 Tahun Penjara, PT Medan Menguatkan Putusan

Oknum ASN Puskesmas yang menghamili siswi SMA lalu menyuruh gugurkan kandungan dihukum 7 tahun penjara. PT Medan menguatkan hukuman tersebut.

pexels
ilustrasi 

"Saat kami berpacaran, dia (Waristo Nduru) mengikuti ujian CPNS dan lolos. Setelah itu, pada Januari 2019, dia datang ke Medan berjumpa dengan saya. Saat itu, dia mengajak saya di Hotel Selayang Pandang Dua arah ke Simpang Selayang.

"Saya bertanya kenapa kita pergi ke sini, lalu dia membujuk saya untuk masuk ke kamar hotel yang telah dipesannya. Dia juga merayu saya dengan iming-iming akan dinikahinya karena dia telah lolos menjadi CPNS. Karena rayuan tersebut, akhirnya saya menuruti apa kata dia untuk melakukan hubungan badan layaknya suami istri sebanyak dua kali," lanjut korban.

Kejadian tersebut tidak diberitahu korban kepada orangtuanya.

Pada Maret 2019, sambungnya, korban mengabarkan ke Waristo Nduru bahwa dia telat datang bulan.

Korban pergi ke apotek untuk membeli tespek dan hasilnya positif hamil.

Namun, Waristo Nduru malah tidak ingin bertanggungjawab dan mengancam korban.

"Kalau tidak digugurkan (kandungannya), dia akan meninggalkan saya," ungkap korban dengan meneteskan air mata.

Pada Agustus 2019, korban dan Waristo Nduru kembali bertemu.

Saat itu, Waristo Nduru menceritakan masalah yang dia hadapi kepada korban dan alasannya balik ke Medan.

Korban juga mengakui kepada Waristo Nduru telah mengandung anaknya.

"Keesokan harinya, dia kembali mengajak saya berhubungan badan. Karena dirayu dan diberi janji-janji akan dinikahkan, saya pun pasrah. Bodohnya saya percaya dia bilang setelah ini semua selesai dan akan bertanggungjawab untuk menikahi saya. Dia bilang kepada saya untuk tidak menceritakannya ke keluarga atau saudara yang lain.

Setelah beberapa hari di Medan dia balik ke Nias. Lalu, saya menagih janjinya karena perut saya semakin lama semakin besar, tapi apa jawaban yang saya dapat, semua hanya kebohongannya saja," terang korban.

Dari hasil hubungan badan itu, pada tanggal 27 Oktober 2019, korban pun melahirkan.

"Saya melahirkan di toilet tempat saya kerja di sebuah restoran tanpa ada bantuan siapapun saya melahirkan bayi laki-laki. Keluarga saya diberitahu dan menelpon dia. Tapi, dia masih menyangkal dan tidak ingin bertanggungjawab. Sore harinya anak saya sudah tidak terselamatkan," ucap korban sambil menangis.


(cr21/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved