Breaking News:

Motif pembunuhan Brigadir J

Titik Terang Motif Pembunuhan Brigadir J, LPSK Sebut Lebih Cocok Diksi 'Asusila' Bukan Pelecehan

Motif pembunuhan Brigadir Yosua Hutabarat mulai tampak titik terang. Sinyal motif telah menjurus pada satu titik. 

HO
Wakil Ketua LPSK Edwin Partogi Pasaribu mengungkap adanya pemberian dua buah amplop tebal usai melakukan pertemuan dengan Irjen pol Ferdy Sambo, Juli lalu di kantor Propam Polri. Namun amplop tersebut tak sempat dibuka karena langsung dikembalikan kepada pemiliknya. 

TRIBUN-MEDAN.com - Motif pembunuhan Brigadir Yosua Hutabarat mulai tampak titik terang. Sinyal motif telah menjurus pada satu titik. 

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengatakan motif pembunuhan Brigadir Yosua antara pelecehan dan perselingkuhan. 

Kini pernyataan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo didukung oleh Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Edwin Partogi Pasaribu.

Secara terbuka, Edwin menyatakan sepakat dengan penyampaian diksi oleh Kepala Polisi Republik Indonesia (Kapolri), Jenderal Listyo Sigit Prabowo, terkait motif kasus pembunuhan Brigadir Joshua adalah adanya dugaan asusila, bukan pelecehan seksual.

Saat ditemui di Gedung LPSK yang berlokasi pada Jalan Raya Bogor KM.24 No.47-49, RT.6/RW.1, Susukan, Kecamatan Ciracas, Kota Jakarta Timur, Edwin mengungkapkan diksi tersebut disampaikan Kapolri saat rapat ke dewan pendapat Komisi III beberapa waktu lalu.

Alasan dirinya sepakat karena, kekerasan seksual dan asusila tentu memiliki perbedaan makna yang cukup signifikan berbeda.

"Kapolri itu bilang dugaan asusila, asusila itu lebih netral dibandingkan kekerasan seksual, karena kalau kita bicara soal kekerasan seksual itu ada unsur paksaan dan serangan, kalau asusila bisa suka sama suka, bisa juga serangan," kata Edwin, Rabu (7/9/2022).

Kapolri dan Edwin Partogi
Kapolri dan Edwin Partogi (Ho/ Tribun-Medan.com)

Karena, hingga kini, Rabu (7/9/2022) kasus terkait pembunuhan Brigadir J masih belum menemui titik terang, bahkan beberapa hal kejanggalan juga perlahan mulai nampak terlihat, dan kemudahan disampaikan jajaran LPSK. 

Contoh tersebut disampaikan Edwin, didasari karena terdapat sesuatu kejanggalan terkait dugaan pelecehan atau kekerasan seksual yang dilakukan Almarhum Joshua terhadap ibu Putri Candrawathi atau ibu PC.

Point kejanggalan pertama, ibu PC dan almarhum Joshua diungkapkan Edwin tidak tergambar adanya relasi kuasa yang kerap dapat menimbulkan kasus pelecehan seksual.

"Dari peristiwa itu tidak tergambar adanya relasi kuasa yang ditemukan dalam aksi pelecehan seksual, Karena posisi Joshua itu adalah anak buah dari ibu PC atau anak buah dari Irjen Sambo, derajat Yosua dibawah mereka," imbuhnya.

Kejanggalan selanjutnya yakni terdapat di lokasi dugaan pelecehan seksual terhadap ibu PC berlangsung.

Diketahui, di lokasi tersebut juga terdapat beberapa orang, dan tidak hanya berisikan antara ibu PC dan almarhum Yosua saja, sehingga, apabila itu terjadi, akan sangat kurang memungkinkan.

"Ketika dugaan peristiwa itu terjadi di lokasi itu ada KM dan S, tentu sangat luar biasa nekat kalau almarhum Yosua melakukan tindakan pelecehan seksual kepada ibu PC," lugasnya.

Baca juga: KASAD Dudung Tegaskan Hubungannya dengan Panglima TNI Baik-baik Saja, Sebut Isu Itu Perlu Diwaspadai

Baca juga: Gagal Jadi Jenderal Bintang Satu, Terungkap Peran Jahat Kombes Agus, Dipecat Karena Ferdy Sambo

Halaman
123
Sumber: Warta kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved