TRIBUNWIKI
SOSOK St. Harangan Wilmar Hutahaean, Pengusaha Ternama Indonesia Berdarah Batak
Wilmar menikah dengan Tio Monica boru Sibarani dari pernikahan keduanya memiliki 3 orang putra, 5 orang anak perempuan dan 20an orang cucu
Penulis: Rizky Aisyah | Editor: Ayu Prasandi
Di dekat lapangan tersebut, ada lahan sebesar 240 hektar untuk mengembangkan resort, hotel dan real estat seluas 100 hektar.
Sementara ada juga proyek properti; rumah yang dibangun type 300 m2 dan terluas 1.500m2.
Sebagai pengusaha, Harangan relatif menggunakan uangnya untuk mendirikan perusahaannya.
Misalnya, lapangan yang dibangun di atas seluas 18 hole saja menelan biaya Rp 148 miliar.
Sementara hotel juga menyedot rupiah yang tidak sedikit Rp 102 miliar. Artinya, hanya dua proyek itu saja sudah menelan dana sekitar 250 miliar.
Kala pembangunan itu diambil dari kantong pribadi. “Hanya pembangunan hotel dan perumahan menggunakan bantuan bank. Hotel yang dibangun itu adalah oleh yang diposisikan hotel bintang 5 dengan 236 kamar. Sementara untuk manajer hotel, Harangan menggunakan jaringan hotel Accor dan Sheraton.”
Sementara di bidang perkebunan sawit, lewat PT Hutahaean diberikan hak mengelola 5.418, 65 hektar di Kebun Dalu Dalu, Kecamatan Tambusai, Kabupaten Rohul.
Masih di wilayah kabupaten yang sama, hanya berbeda kecamatan, tepatnya di Kebun Teluk Sono Harangan juga memiliki kebun 7.700 ha kebun kelapa sawit.
Dia memulai masuk ke dalam lingkaran bisnis perkebunan kelapa sawit. Menurutnya, awalnya berbisnis di perkebunan kelapa sawit sebenarnya, awalnya, hanya factor x saja.
Di tahun 1987, waktu itu, ia menemui gubernur di rumah dinasnya untuk perbincangan tentang kira-kira bisnis apa yang berprospek ke depan.
Lalu Gubernur memberikan hak izin dengan memberikan SK Gubernur oleh Gubernur Riau Letjen Soeripto (1988-1998) tentang izin lokasi dan pembebasan hak, pembelian tanah untuk perkebunan.
Sejak itu, Harangan bersama karyawannya menanami bibit sawit di kebun yang diberikan hak pakai oleh gubernur.
Baca juga: Sosok Muhammad Nasir Djamil, Politisi Aceh dari Partai Keadilan Sejahtera
Lalu, tahun 1992, kelapa sawit itu sudah mulai berbuah dan bisa diproduksi 1,2 ton per hectare per tahun.
Tahun 1996, sebagai pengusaha Harangan kemudian membangun pabrik pengilangan minyak kelapa sawit pertama.
Pabrik ini bisa memproduksi sekitar 30 ton per jam. Tahun kedua, sudah meningkat menjadi 60 ton per jam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/St-Harangan-Wilmar-Hutahaean.jpg)