Breaking News:

Ngopi Sore

Sabu Diganti Tawas, Ah, Polisi Lagi, Polisi Lagi

Celakanya, dalam kurun yang berdekatan terjadi peristiwa-peristiwa lain yang membuat sentimen buruk terhadap citra polisi malah makin ambrol.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
PENANGKAPAN - Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo memberikan keterangan saat konferensi pers di Ruang Rupatama, Mabes Polri, Jakarta, Jumat (14/10/2022). Dalam keterangannya, Kapolri membenarkan penangkapan Irjen Pol Teddy Minahasa Putra terkait dugaan keterlibatan dengan jaringan jual beli narkoba. 

SAYA tidak ingat persis sejak kapan saya mulai menyukai film tentang polisi. Barangkali di era 1980-an, saat itu saya nyaris rutin duduk di depan televisi yang mengalirkan film-film India lewat pemutar video.

Iya, film India dan polisi, boleh dikata sebagai satu kelindan yang padu. Polisi-polisi yang perkasa, yang bersih nyaris suci, tak sentuh segala bentuk konspirasi. Inspektur Vijay Khanna atau kelak Bajirao Singham atau Samar Pratap Singh, tak jauh berbeda.

Mereka, dalam balutan seragam coklat, tongkat komando, pistol, dan jeep Willys, menghajar para penjahat yang datang dari beragam strata, dari mulai begundal jalanan sampai menteri.

Namun kemudian saya juga tahu ada polisi-polisi tengik bin brengsek macam Detektif Alonzo Harris atau Dennis Peck. Keduanya, dalam Training Day dan Internal Affairs, memanipulasi banyak hal untuk kepentingan pribadi.

Satu film Hong Kong produksi 2002, berjudul Internal Affairs juga, bahkan bergerak lebih jauh. Mengisahkan perihal pertukaran penyamaran yang canggih: Triad mengirim anggotanya untuk menyamar jadi polisi, sebaliknya pada saat bersamaan polisi menyusupkan anggotanya ke markas Triad.

Kedua orang ini: Lau Kin-ming (diperankan Andy Lau) dan Chan Wing-yan (dimainkan Tony Leung), begitu menghayati peran mereka, hingga kemudian yang tersuguh adalah fakta betapa “permainan” polisi dan triad hampir identik. Sama-sama busuk. Sama-sama menghalalkan segala cara untuk mencapai yang dituju. Kebohongan demi kebohongan. Konspirasi demi konspirasi. Penghalang disingkirkan.

Walau sudah sangat terbiasa mendapati kebusukan model-model begini, toh saya masih juga merasa terkaget-kaget tatkala kasus Irjen Ferdy Sambo mencuat.

Terlepas dari apapun alasan yang jadi latar belakang pembunuhan, seorang jenderal yang memerintahkan pembunuhan (entah bahkan bisa jadi ikut membunuh) anak buahnya, ajudannya, polisi berpangkat brigadir, lalu sedemikian rupa merekayasa skenario, tetaplah terkategorikan perbuatan luar biasa keji dan di luar nalar.

Apalagi, berseiringan dengan kasus pembunuhan ini, menyeruak dugaan keterlibatan Sambo dan sejumlah jenderal di lingkaran dalam Mabes Polri dalam kasus judi. Mereka dikaitpautkan dengan nama-nama yang selama ini “terlanjur familiar” sebagai “God of Gambler”.

Ferdy Sambo tetap menggaungkan motif kekerasan seksual di Magelang pada 7 Juli 2022 lalu. Ia memberikan keterangan usai dilimpahkan Polri ke Kejagung, Rabu (5/10/2022). 
Ferdy Sambo tetap menggaungkan motif kekerasan seksual di Magelang pada 7 Juli 2022 lalu. Ia memberikan keterangan usai dilimpahkan Polri ke Kejagung, Rabu (5/10/2022).  (HO)

Kasus Sambo memukul keras institusi kepolisian. Kehormatan mereka runtuh. Sentilan, ejekan, atau amarah, yang tadinya dilontar dengan malu-malu, dibarengi rasa segan, betul-betul telah kehilangan kontrol.

Diksi ‘polisi’, terutama untuk perkara-perkara bertendensi negatif, secara bebas kemudian dialih-narasikan sebagai ‘Sambo’ dan diteriakkan begitu rupa di muka umum.

Tentu polisi tidak tinggal diam. Mereka berupaya untuk memulihkan “nama baik”. Polisi-polisi baik, polisi-polisi yang berbuat baik, yang menjadi pahlawan-pahlawan sebenarnya di tengah masyarakat –yang memang ada dan tidak sedikit jumlahnya– coba dikedepankan.

Analogi bahwa polisi yang menyimpang seperti apel yang membusuk (rotten apple) –dengan kata lain, mereka menyimpang, tetapi pada dasarnya baik– dikampanyekan lagi.

Upaya ini, kita tahu, tidak berhasil. Bukan saja lantaran waktunya yang kelewat sempit, tapi lebih jauh, celakanya, karena dalam kurun yang berdekatan terjadi peristiwa-peristiwa lain yang membuat sentimen buruk terhadap citra polisi malah makin ambrol.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved