In Memoriam Pele
Selamat Jalan Maestro, Salam untuk Diego
Sepak bola kembali kehilangan sosok besar. Pele, legenda sepak bola Brasil, meninggal dunia karena penyakit gagal ginjal kronis dan kanker usus besar.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
Pada final Piala Dunia 1958, seorang pemain belakang Swedia secara terang-terangan menerjang lutut Pele, dan wasit sama sekali tidak meniup pluit. Laga berlanjut. Pele, dengan agak terhuyung, melambungkan bola melewati kepala pemain belakang Swedia yang lain, lalu melepaskan tendangan voli untuk menciptakan satu di antara gol yang barangkali akan selalu masuk ke dalam daftar terbaik sepanjang masa.
Belum lagi teknologi. Bola yang digunakan saat itu bukanlah sebangsa Al Rihla dan Al Hilm, bola-bola yang digunakan di Piala Dunia Qatar 2022. Bukan bola-bola yang dibuat dengan menyertakan terapan teknologi canggih. Bola di era Pele dari kulit keras yang dijahit, yang sudah barang tentu berat –dan akan makin keras dan berat dalam kondisi basah.
Pun sepatu. Setelah Gola, Valsports, dan Pantofola mendominasi lapangan sepak bola, sejak Piala Dunia 1954, Puma dan Adidas, dua brand yang dibangun abang-beradik asal Jerman, Adolf dan Rudolf Dassler, menjadi pemasok utama sepatu bagi pemain-pemain sepak bola.
Namun seperti bola, tentu saja, bentuk dan teknologinya masih sangat jauh dibanding sekarang. Sepatu "canggih" pertama yang dipakai Pele adalah Puma Kina 1970.
Dalam buku Sneaker War yang ditulis Barbara Smit, Pele disebut menerima 120 ribu dolar dari Puma hanya untuk mengikat tali sepatu itu di lapangan sebelum laga babak Perempat Final Piala Dunia antara Brasil versus Peru, 14 Juli 1970.
Agak mirip dengan Pele memang Maradona. Zaman memang sudah mulai canggih; bola dan sepatu makin ringan dan stabil, tapi regulasi sepak bola masih belum rapi. Maradona entah berapa ratus kali jadi korban penjagalan di lapangan.
Kaki bengkak, terkilir, bahkan patah pernah dialaminya, dan nyaris tidak pernah terdengar pemain-pemain yang menghajarnya mendapatkan sanksi yang lebih berat dari sekadar kartu kuning atau kartu merah.
Mungkin karena ini juga, Pele selalu menganggap Maradona sebagai pemain yang setara dengannya. Begitu sebaliknya –walau Maradona kerap bercanda, mengatakan bahwa mereka pada dasarnya tidak akan pernah berada di posisi yang sama: "bagaimana bisa seorang raja menyamai Tuhan?"
Keduanya bersahabat dalam jarak yang samar. Tidak pernah terlalu dekat, tidak pula renggang. Terutama sejak bertemu secara langsung dalam pertandingan hiburan yang menandai peluncuran produk jam tangan Hublot di Jardin du Palais Royal, Paris, Prancis, 9 Juni 2016, mereka menghentikan seteru yang beberapa kali sempat mencuat jadi debat panas.
Tatkala Maradona meninggal dunia, Pele menulis dunia telah kehilangan seorang maestro, seorang legenda, dan berharap suatu ketika kelak dapat bermain sepak bola dengannya, di langit.
Takdir barangkali memang tidak dapat dibelokkan, tapi siapa tahu harapan itu bisa terwujud. Pele meninggal dunia di Sao Paolo, Kamis, 30 Desember 2022. Sehari menjelang akhir tahun, momentum yang selalu disambut rakyat Brasil dengan pesta-pesta yang serba meriah. Kematian Pele menunda kemeriahan itu –Pemerintah Brasil sudah menetapkan tiga hari berkabung nasional.
Namun kenangan akan Pele akan hidup selamanya. Seperti doa-doa yang dituliskan dalam berbagai poster yang dibawa ribuan orang ke depan Albert Einstein Israelite Hospital, Sao Paulo, Brasil, tempat Pele dirawat sejak 4 Desember 2022 karena penyakit gagal ginjal kronis dan kanker usus besar.
Longa vida Ao Rei, panjang umur raja kami.(t agus khaidir)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/pelemaradona2.jpg)