Breaking News:

Ngopi Sore

Ah, Cak Nun Ternyata Cuma Kesambet Firaun, Pak Jokowi

Cak Nun panen hujatan lebih banyak karena permintaan maafnya dinilai terlalu ribet, terlalu rumit, terlalu “muter-muter” dan tidak tepat sasaran.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
caknun.com
Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun saat memberikan ceramah beberapa waktu lalu. 

BAHWA Emha Ainun Nadjib tidak suka pada Joko Widodo (Jokowi) bukan lagi merupakan rahasia. Cak Nun, demikian Emha (akronim “bebas” dari nama depannya, Muhammad) biasa disapa, bahkan sangat berterus terang.

Dalam sejumlah ceramahnya yang disebarluaskan lewat media sosial, termasuk platform video YouTube, ia menunjukkan ketidaksukaan ini dalam berbagai bentuk. Dari yang serius sampai yang sekadar ngenyek, mengejek-ejek dengan guyonan. Pada Pemilu 2019, walau tidak pernah mengemukakannya secara langsung, ia cenderung condong ke Prabowo Subianto.

Namun memang hanya sampai di situ. Cak Nun bukan seorang pengkritik sekadar. Ia seorang cendikia yang elegan, yang telah berpikir tentang beragam macam persoalan bangsa, baik yang berkaitpaut dengan kenegaraan, agama, dan kelindan keduanya, sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu.

Ia berbicara di banyak forum. Di panggung-panggung elite di jantung ibukota sampai ke bawah tenda-tenda kenduri di pelosok desa. Saya gagal menghitung berapa banyak buku yang ditulisnya.

Cak Nun jarang sekali berbicara perihal 'siapa'. Ia menitikberatkan pikiran dan pemikirannya pada 'apa'. Jika pun menyangkut 'siapa', maka 'ke-siapa-an' ini tetap dileburkannya ke dalam 'ke-apa-an'. Cak Nun melontar kritik atas pemikiran, atas kebijakan, atas titah perintah para pemimpin rakyat, para politisi, juga aparat-aparat pemerintahan yang dianggapnya tidak benar. Sangat jarang, untuk menyebut tak pernah, ia menyerang pribadi.

Tentu, tak sekali dua kali dia subjektif juga. Cak Nun berkeras pada pemikirannya, yang berangkat dari telaah-telaahnya sendiri. Telaah agama. Telaah filsafat. Atau gabungan keduanya. Misalnya tentang Pancasila. Dalam tulisannya yang termaktub dalam buku Indonesia Bagian Sangat Penting dari Desa Saya (1983), Cak Nun menyebut Pancasila sangat religius. Ia menghubungkan Pancasila dengan Rukun Islam yang juga berjumlah lima: “Ketuhanan Yang Maha Esa itu Syahadatain, sila kedua Mu’amalah ma’annas, sila ketiga Ukhuwah, keempat jelas Musyawarah, dan kelima, pasal keadilan, tentulah Zakat atau Qurban.”

Canggih, tak terduga, dan –terlepas dari sepaham atau tidak sepaham– menghadirkan perenungan panjang.

Sering pula ia datang dengan lelucon. Pada ‘Tinju Pak Kyai’, misalnya, ia menyoroti kecenderungan banyak orang Indonesia yang “asal bunyi”; berpendapat lalu bertindak tanpa benar-benar lebih dulu paham atas apa yang disuarakan. Pak Kyai digambarkan Cak Nun menonton pertandingan Muhammad Ali melawan George Foreman (pertandingan di Kinshasa, Zaire, 30 Oktober 1974) dan berteriak-teriak tiap kali Foreman memukul Ali lantaran mengira Foreman adalah Ali.

Emha Ainun Nadjib saat memberikan ceramah pada satu acara beberapa waktu lalu
Emha Ainun Nadjib saat memberikan ceramah pada satu acara beberapa waktu lalu (Tangkapan Layar Kompas TV)

Begitulah Cak Nun, bertahun-tahun, berpuluh tahun, melontar pendapat-pendapat dengan caranya yang unik. Melalui Kenduri Cinta dan Pengajian Padhangmbulan, Cak Nun juga menyuarakan kasih sayang, menjernihkan pikiran dan menata hati. Ia istikamah menjalankan gerakan-gerakan ini. Kenduri Cinta sudah masuk tahun ke 23 sedangkan Padhanmbulan lebih lama lagi. Emha memulainya pada tahun 1993.

Maka sedikit banyak mengherankan ketika akhir-akhir ini Cak Nun menunjukkan sisi yang lain dari keistikamahan itu. Ajaran-ajarannya, yang ia sampaikan pada para pengikutnya, mulai terasa lebih keras.

Ia seolah kontradiktif dari tipikal-tipikal orang pandai dan bijak dalam pewayangan yang sering dikutipnya. Makin tua, Cak Nun, tak kelihatan makin arif, tak tampak makin tenang dan penuh walas asih. Sebaliknya, justru kian berapi-api. Ia bagai gunung vulkanik yang memuntahkan debu dan awan panas, siap meletup kapan saja.

Teranyar, Cak Nun menyebut Jokowi Firaun. Menyebutnya begitu saja tanpa tedeng aling-aling. Tidak tamsil. Ia tidak mengemukakan 'apa', melainkan langsung 'siapa'. Iya, Jokowi adalah Firaun, Anthony Salim (dan 10 Naga) itu Qarun, sementara Luhut (diduga Luhut Binsar Panjaitan) disamakannya dengan Haman.

Firaun, Qarun, dan Haman, tokoh-tokoh antagonis dalam Islam. Para pengingkar yang dilaknat Tuhan dan kemungkinan besar akan masuk neraka. Pertanyaannya, apakah yang menjadi titik tolak Cak Nun hingga ia sampai pada kesimpulan bahwa Jokowi, Anthony Salim (dan 10 Naga), dan Luhut memang pantas disejajarkan dengan mereka?

Cak Nun bilang pula bahwa saat ini seluruh sistem pemerintahan telah diambil alih –dan dengan demikian dikendalikan– oleh Jokowi dan Luhut. "Semuanya, dari uang, otoritas, sampai alat-alat politik," katanya.

Presiden Joko Widodo bersama Luhut Binsar Panjaitan (kiri) saat hadir di acara OOC tahun 2018
Presiden Joko Widodo bersama Luhut Binsar Panjaitan (kiri) saat hadir di acara OOC tahun 2018 (foto dokumen)
Halaman
12
Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved