TRIBUNWIKI
Mengenal Hari Raya Galungan Umat Hindu, di Medan Dirayakan di Pura Ini
Galungan adalah momen bersejarah di mana kebaikan menang atas kejahatan melalui kemenangan Dharma.
Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN- Rahinan Budha Kliwon Dungulan bertepatan dengan Hari Raya Galungan.
Merupakan bagian dari siklus upacara Hindu, perayaan ini jatuh setiap enam bulan sekali dalam penanggalan wuku Bali.
Galungan adalah momen bersejarah di mana kebaikan menang atas kejahatan melalui kemenangan Dharma.
Tak hanya di Bali, perayaan Galungan juga dilakukan umat Hindu di beberapa daerah, tak terkecuali Kota Medan.
Umat Hindu di Medan bersembahyang bersama di Pura Satria Bhuana Makodam Bukit Barisan, dan juga Pura Agung Raksa Buana.
Penyelenggara Hindu Kemenag Kota Medan Sri Widati menyampaikan, perayaan Galungan sama dengan perayaan hari raya di agama lainnya.
Hari Raya Galungan tidak hanya identik dengan perayaan keagamaan, tetapi juga mencerminkan makna sosial dan budaya dalam kehidupan masyarakat.
"Pesan penting di perayaan Galungan ini adalah introspeksi diri juga saling memaafkan," ujarnya, kepada Tribun Medan, Rabu (9/8/2023).
Dikatakannya deretan perayaan Galungan ini dimulai dari berpuasa, dan di hari H, juga dilanjut di 10 hari setelah perayaaan Galungan, yakni upacara Kuningan, yang akan berlangsung di 12 Agustus 2023.
Perayaan ini memperteguh rasa persatuan dan kebersamaan serta melestarikan warisan nenek moyang dengan penuh kebanggaan.
Tradisi masyarakat untuk merayakannya adalah dengan menghaturkan banten (sesaji) yang berupa bubur sumsum (bubuh) yang berwarna seperti:
1. Bubuh putih untuk umbi-umbian
2. Bubuh bang untuk padang-padangan
3. Bubuh gadang untuk bangsa pohon yang berkembang biak secara generatif
4. Bubuh kuning untuk bangsa pohon yang berkembang biak secara vegetatif
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Perayaan-Galungan-Umat-Hindu-di.jpg)