Breaking News

Ngopi Sore

Syahwat Berkuasa dan Politik Malin Kundang

Masyarakat kita membenci pengkhianat dan tak pernah mentolerir perilaku Malin Kundang. Orang-orang seperti ini akan dijatuhkan ke comberan.

Tayang:
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
AFP PHOTO/BAY ISMOYO
SWAFOTO - Seorang laki-laki melakukan swafoto di depan poster bergambar Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Presiden Joko Widodo yang belakangan makin santer disebut-sebut sebagai bakal calon wakil presiden (cawapres) yang akan diusung Koalisi Indonesia Maju bersama Prabowo Subianto pada Pilpres 2024. 

Maka memang jadi sah-sah saja apabila Kaesang Pangarep, putra bungsu presiden, masuk ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan langsung jadi ketua umumnya. Sah-sah saja jika nanti, katakanlah, Gibran keluar dari PDI Perjuangan dan masuk Golkar. Sah-sah saja kalau dalam beberapa hari ke depan, atau beberapa pekan ke depan, Presiden Jokowi menyatakan dukungan terhadap putranya yang berpasangan dengan orang yang dalam dua kontestasi pilpres bertarung habis-habisan melawan dirinya dan nyaris mengakibatkan negeri ini terbelah.

Sekali lagi, sah-sah saja. Tak ada hukum apa pun yang dilanggar. Berarti aman? Tidak juga. Ada hal lain di luar cara pandang kelaziman politik. Hal yang berkaitpaut dengan pendapat kedua. Hal yang tidak termaktub dalam teori politik mana pun, tapi di Indonesia justru bisa [bahkan sangat bisa!] membawa dampak besar: etika.

Begitulah, di Indonesia, politik berjalan sebagaimana kelazimannya. Dorong-mendorong, potong-memotong, timpa-menimpa, penggal-memenggal. Dengan kata lain, politisi dan partai politik bisa melakukan apa saja, segalanya, asalkan tetap berhati-hati, karena ada hukum tak tertulis yang mengintai. Bukan dari lingkaran pelaku politik, melainkan dari luar, yakni masyarakat yang secara menakjubkan masih menjunjung tinggi apa yang disebut sebagai “adat ketimuran”.

Anda boleh brengsek tapi jangan pernah merasa lebih tinggi dari budaya. Anda boleh brengsek tapi jangan sesekali melecehkan agama. Anda boleh brengsek tapi jangan kurang ajar pada orangtuamu. Anda boleh brengsek tapi jangan berkhianat pada orang yang pernah berjasa padamu. Jangan pernah lupa kacang pada kulit. Jangan menelikung. Apalagi sampai tega menikam dari belakang.

Masyarakat kita membenci pengkhianat dan tidak pernah mentolerir perilaku Malin Kundang. Orang-orang seperti ini, segagah apa pun dia, setinggi apa pun dia berdiri, akan dijatuhkan ke comberan. Pengkhianatan dan perilaku Malin Kundang, termasuk dalam politik, tidak dipandang sebagai lelucon sebagaimana Kolonel Aureliano Buendía menertawakan bekas kawan seperjuangannya.

Di negeri ini, pengkhianatan dan perilaku Malin Kundang hukumannya sangat tegas dan jelas, dan seringkali kejam. Sekali kesalahan dilakukan, maka segenap kerja mereka yang cemerlang, pencapaian-pencapaian mereka yang gemilang, dilupakan begitu saja. Pujian dalam sekerlipan mata berganti cibiran, hinaan, dan bahkan “pengasingan”.

Contohnya sudah banyak. Akankah daftarnya akan bertambah panjang?(t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved