Sumut Memilih
Survei Kompas, Elektabilitas Ganjar Turun, TKD Sumut : Jadi Cambuk Kami untuk Optimal Bergerak
Berdasarkan survei Kompas yang dilakukan pada 24 November hingga 4 Desember, Ganjar dan Mahfud mendapatkan 15,3 persen suara.
Penulis: Anugrah Nasution | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN-MEDAN. com, MEDAN - Elektabilitas pasangan Calon Presiden Ganjar Pranowo dan Mahfud MD menempati urutan paling buncit alias terbawah dari pasangan lainnya.
Berdasarkan survei Kompas yang dilakukan pada 24 November hingga 4 Desember, Ganjar dan Mahfud mendapatkan 15,3 persen suara.
Survei Kompas memperlihatkan elektabilitas Ganjar mengalami penurunan hingga di bawah pasangan Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar yang mendapat 16,7 persen suara.
Sementara pasangan nomor urut 2 Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka teratas dengan 39,7 persen suara.
Menanggapi hal itu, juru bicara Tim Kampanye Daerah (TKD) Ganjar dan Mahfud MD Sumut, Sutrisno Pangaribuan mengakui adanya penurunan elektabilitas Ganjar.
Sutrisno berujar, hasil survei terbaru tersebut sebagai cambukan terhadap tim pemenangan.
"Yang pertama hasil survei itu sebagai produk ilmiah harus kami hormati. Penurunan itu sesuatu yang penting dan menunjukkan ada yang kurang kami lakukan seperti sosialisasikan, program kampanye, belum optimal. Justru perolehan ini jadi cabuk bagi kami, khusus tim pemenangan," kata Sutrisno kepada tribun, Senin (11/12/2023).
Sutrisno menyatakan, penurunan elektabilitas Ganjar berdasarkan survei perlu diamati bersama.
Menurutnya, penurunan itu tidak terlepas dari kerja kerja tim pemenangan Ganjar dalam melakukan program program yang dapat diterima masyarakat.
Selain itu, mantan anggota DPRD Sumut itu menilai, kerja kerja tim pemenangan yang terdiri dari gabungan partai politik dan relawan belum optimal mensosialisasikan Ganjar dan Mahfud termasuk di Sumut.
Misalnya sebut Sutrisno, soalnya alat peraga kampanye, beberapa calon anggota legislatif sebutnya juga belum menerakan wajah pasangan calon presiden.
"Partai pengusung belum maksimal, caleg caleg dari partai pengusung juga belum total sosialisasikan pasangan presiden. Konsolidasi parpol belum optimal karena masing masing sibuk dengan calegnya saat ini, " kata Sutrisno.
Meski masih ada waktu yang tersisa untuk melakukan perbaikan, namun hasil survei Kompas dapat menjadi peringatan yang tidak bisa dibiarkan.
"Ini warning, artinya tidak bisa juga kerja kerja yang begitu, jika tidak ditanggapi maka tujuan tidak tercapai. Hasil survei itu harus diterima bukan hanya saat menang. Kompas sebagai lembaga kredibel karena buka hanya turun tapi posisi ke tiga. Ini jadi cambuk bagi kami, jika tidak ada kerjakan yang kongrit tidak akan menang," lanjut Sutrisno.
Pada Agustus lalu, berdasarkan survei Kompas elektabilitas Ganjar Pranowo masih menempati urutan teratas dengan 34 persen.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.