Berita Viral
TERKUAK Motif Rohingya Datang ke Aceh, Ternyata Bukan Mengungsi tapi Mau Cari Pekerjaan
Ternyata bukan mengungsi, terkuak motif etnis Rohingya datang ke Aceh dan rela bayar Rp16 juta ternyata untuk mencari pekerjaan
Baginda mengatakan dari hasil pemeriksaan yang dilakukan pihaknya, NIK yang dimiliki delapan imigran gelap itu tidak terdaftar di Kota Medan.
"Kami hanya ingin meluruskan NIK KTP yang dimiliki delapan imigran tersebut Bukan NIK Kota Medan. Dan kami menemukan adanya pemalsuan data," kata dia Kepada Tribun Medan, Rabu (20/12/2023).
Beberapa waktu lalu diberitakan, Wali Kota Medan Bobby Nasution memastikan KTP yang dimiliki oleh delapan imigran gelap asal Rohingya, Bangladesh palsu.
Bobby Nasution mengatakan NIK pada KTP yang didapatkan oleh delapan imigran tersebut memang NIK Kota Medan.
"Kita sudah lakukan pemeriksaan, sejauh ini dari hasil pemeriksaan KTP yang dimiliki oleh mereka (delapan imigran) itu Palsu. Namun untuk NIK nya itu memang NIK Kota Medan. Tapi begitu di buka nama dan NIK dan fotonya itu berbeda," kata Bobby pada Senin (18/12/2023).
Bobby menerangkan untuk kartu KTP milik delapan imigran yang didapat dari Kota Medan itu berbahan biasa selayaknya ID Card kerja.
Baca juga: Potensi Kecurangan Pemilu Tinggi, Ketua DPD PDIP Sumut Temui BSPN Kota Sibolga, Saksi Siap Tempur
Baca juga: Diduga Dirampok, Sekeluarga di Muba Sumsel Ditemukan Tewas, Uang Jual Tanah Rp 200 Juta Hilang
"Itu seperti sindikat kita lihat, card (kartunya) seperti yang saya pakai ini bahannya berbeda dari KTP tapi kalau sekilas mirip KTP memang. Card nya itu sama seperti card card E-Toll segala macam tapi fotonya diganti dengan foto mereka. Tapi memang NIK nya betul milik warga Medan. Tapi data dirinya bukan data diri si orang Rohingya," kata dia.
Ia juga mengaku dari sebagian NIK yang digunakan oleh orang Rohingya itu, pemilik NIK sebenarnya ada yang masih hidup.
"Ada yang masih hidup ada yang tidak itu lah dinamakan pemalsuan data," kata Bobby.
Dilansir dari Tribun Flores, imigran gelap asal Bangladesh yang berhasil diamankan oleh Polres Belu, bernama Awang (pakai identitas palsu) mengakui Kartu Tanda Penduduk (KTP) palsu yang mereka miliki dibuat di Medan Sumatra Utara.
Awang mengungkapkan KTP tersebut didapatkannya dari seorang warga dengan membayar sejumlah uang.
Ia juga mengakui bahwa mereka datang dari Bangladesh ke Medan tanpa menggunakan paspor (Paspor dan KTP hanya ada di handphone milik mereka).
"Kami membuat KTP di Medan, Sumatra Utara, dengan menggunakan jasa seorang warga, dengan membayar Rp 300 ribu per orang. Kita tidak tahu dia siapa, dia ambil uang 300 ribu setiap orangnya. Dia tidak ada gambarnya dan nomornya padam (tidak bisa dihubungi lagi)," kata MB Nadim pemilik nama asli sesuai KTP Bangladesh.
"Setelah mendapatkan KTP tersebut, kami langsung berangkat menggunakan pesawat dari Medan ke Kupang dan terus ke Atambua secara bertahap," lanjut dia.
Ia juga mengakui mereka sudah berada di Desa Takirin sejak tanggal 26 November lalu atau kurang lebih 2 minggu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Kapal-imigran-Rohingya-dibuang-ke-laut-Sabang.jpg)