Tribun Wiki
Sosok Savana Odelia Sudwikatmono, Anak dari Founder Net TV yang Bikin Desta Kikuk
Sosok Savana Odelia Sudwikatmono mendadak viral setelah tampil di acara Main Hakim Sendiri yang tayang di Net TV
Baru tingkat dua ibunya sudah sambat soal biaya, terlebih Bapaknya sudah pensiun.
Ibu hanya terima uang dari sewa kamar kos. Bahkan ia sampai satu kamar dengan anak kos.
Tapi prinsipnya tidak mau minta kakak-kakaknya, walaupun sebenarnya bisa. Ia mau cari sendiri.
Sebagai pengusaha sukses tentu tidak harus tampil sendirian membangun kerajaan bisnisnya, tapi acap kali pula Sudwikatmono bermitra dengan tokoh pengusaha sukses lainnya.
Sebagai pengusaha besar tidak membuat Sudwikatmono pongah.
Ia tetap seorang warga negara yang baik sejak dulu. Ia pun pernah mendukung imbauan Presiden Soeharto untuk menertibkan operasi pasar swalayan besar di Dati II agaknya memang realistis. Buktinya, instruksi itu juga ditanggapi secara positif oleh pengusaha pasar swalayan raksasa ini.
Padahal saat itu muncul beragam asumsi penilaian mulai dari apakah instruksi itu tidak akan mengganjal ekspansi usahanya, atau barangkali dia punya skenario khusus untuk menyiasati instruksi itu?
“Pembatasan usaha ritel saya kira merupakan langkah tepat. Terutama untuk pengembangkan pengusaha ritel lokal. Sebab, untuk ritel besar masih cukup besar peluangnya melakukan ekspansi di kota-kota propinsi,” kata sosok yang pernah merasakan menjadi Presdir Indofood Sukses Makmur sekaligus pemilik Golden Truly.
Pemikirannya yang arif tersebut kala itu memang mengandung kebijakan dan membangun peluang bagi pengusaha lokal untuk mengembangkan usaha sebagai upaya mendukung perekonomian daerah dan masyarakat.
Pun ia berpikir agar pengusaha besar jangan hanya mengandalkan Jakarta.
Bahkan jika perlu ekspansi ke luar negeri, terutama ke negara-negara yang berpeluang untuk dimasuki ritel Indonesia.
Pengusaha, harus kreatif dan inovasi dalam ekspansi usaha dan tidak menyerah karena adanya peraturan-peraturan tertentu.
Diperjalanan usia memasuki usia 72 tahun, Sudwikatmono tetap masih memikirkan nasib bangsanya yang masih banyak berada di bawah garis kemiskinan.
“Itulah tugas sekaligus yang menjadi perhatian besar dari Yayasan Damandiri yang diketuai Pak Harto,” tukas Pak Dwi.
Dalam perjalanannya mengentaskan kemiskinan bersama Yayasan Damandiri, selaku salah satu anggota tokoh pendiri, Sudwikatmono menilai, “Kalau menurut pandangan saya belum mencapai target, tapi sudah tepat sasaran. Hal ini karena Presidennya (pemerintahannya) ganti-ganti terus, sehingga tidak ada yang memikirkan yayasan yang digagas Pak Harto sebagai Presiden yang kedua Republik Indonesia,” kilah pengusaha yang setelah pindah dari Menteng ke Simpruk dan sekarang di kawasan elit Pondok Indah, Jakarta Selatan.
Itu sebabnya, kata tokoh pengusaha yang kesehatannya sudah mulai terganggu ini, sampai sekarang kemiskinan bukannya menurun tapi justru meningkat. Itu kenyataan.
Tapi Damandiri berusaha tetap meneruskan cita-cita yang dahulu.
Kita tidak boleh melupakan jasa-jasa presiden yang dulu, tapi sekarang harus dikembangkan lagi untuk masa depan yang lebih baik.
Sebagai salah satu tokoh pendiri Damandiri, ia berharap meskipun kinerja Yayasan ini tidak tergantung dari pemerintah, sebab Damandiri telah memiliki program kegiatan program pengentasan kemiskinan, maka pemerintah perlu mendukungnya.
Demikian juga dengan yayasan yang diketuai Pak Harto lainnya, yang sifatnya betul-betul sosial membantu rakyat-rakyat yang miskin dan rakyat yang kekurangan fasilitas.
“Tujuannya kan baik, membantu mereka yang membutuhkan agar dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya,” kata Pak Dwi, seraya melanjutkan, “bukankah membantu orang-orang yang susah dan membutuhkan itu merupakan perbuatan baik dan diridhoi Tuhan. Membangun sebanyak-banyaknya kebajikan selama masih hidup. Buka mata buka hati, ringankan tangan untuk terus membantu sesamanya. Santun dalam mengelola usaha tapi juga harus ramah berderma”.
Demikian beberapa saran bijak disampaikan pemilik kegiatan rutin sehabis sembahyang Subuh menghangatkan badan.
Dulu sering jalan kaki satu jam keliling komplek tiga kali, hampir lima kilometer.
Hobinya dulu jalan kaki dan berenang tiap kali satu jam.
Bisa delapan kali, yang penting bergerak. Pantas tetap segar, Pak Dwi!(tribun-medan.com)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter
Berita viral lainnya di Tribun Medan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.