Catatan Sepak Bola

Ketika Hacker Turun Gelanggang

Dalam satu podcast, Justin mengatakan Shin Tae-yong harus segera dipecat untuk menyelamatkan peluang Indonesia ke Piala Dunia.

|
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Randy P.F Hutagaol
Tribun Solo/Muhammad Nursina
PRESIDEN ketujuh RI, Joko Widodo menyaksikan pertandingan Timnas Indonesia melawan Filipina pada laga pamungkas Grup B Piala AFF 2024 di Stadion Manahan, Solo, beberapa waktu lalu. 

TIDAK ada yang lebih ciamik dari sepak bola Indonesia. Ini memang klaim yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Sebutlah negara mana yang pemain-pemain tim nasionalnya pernah secara sengaja, [boleh tuliskan tebal dan digarisbawahi] dengan sungguh terang-terangan, bergerak di lapangan untuk tujuan mencetak gol ke gawang sendiri.

Di muka bumi, sepanjang sejarah manusia mengenal sepak bola, barangkali sudah ribuan pemain berandil dalam gol bunuh diri. Namun memang baru pemain-pemain Indonesia yang betul-betul memiliki niat melakukannya, hingga memaksa lawan menjadi pemain pertahanan guna mencegah mereka melesakkan gol itu.

Sebutlah negara mana yang federasinya pernah terbelah dua, lalu sama-sama menyebut diri sebagai ‘yang (paling) sah dan (paling) resmi’, lalu sama-sama menggelar kompetisi, lalu sama-sama membentuk skuad tim nasional. Untunglah saat itu, FIFA, dan AFC, tidak mengakomodir kedua-duanya sekaligus. Sebab jika demikian, barangkali akan terjadi sejarah baru pula: dua federasi mengirimkan dua tim nasional ke satu turnamen, hingga entah, jika ada jalan, dapat menciptakan All Indonesian Finals.

Belum cukup ciamik? Sebutlah negara mana yang para punditnya, pengamat-pengamat sepak bolanya, bicara bebas begitu rupa, melancarkan segala macam kritik hingga memancing hacker untuk turun gelanggang. Bukan untuk meramaikan kritik dengan pengungkapan data-data yang selama ini tersembunyi. Bukan pula untuk mengungkap fakta-fakta kecurangan. Melainkan untuk membungkam pundit-pundit itu.

Hacker dialih-bahasakan di Indonesia sebagai ‘peretas’. Berangkat dari ‘hacking’, yang menurut The New Yorker, pertama kali muncul tahun 1955, sebagai sebutan untuk aktivitas modifikasi perangkat kereta berteknologi tinggi yang dilakukan Technical Model Railroad Club di Massachusetts Institute of Technology (MIT).

Istilah ini, pelan-pelan mengalami perubahan makna setelah Kevin Mitnick membobol sistem komputer Digital Equipment Corporation (DEC) di Amerika Serikat pada tahun 1979. Sejak itu, ‘hacking’ dianggap kejahatan dan pelaku-pelakunya disebut hacker.

Meski demikian, konon, tidak semua hacker merupakan pelaku kriminal. Di antara mereka ada juga hacker-hacker baik. Mereka diklasifikasikan ke dalam ‘White Hat Hacker’ atau ‘Certified Ethical Hacker’. Mereka biasa bekerja untuk lembaga atau instansi tertentu, dikontrak dengan angka besar, guna menguji dan mengevaluasi kelemahan dari suatu sistem dengan tujuan meningkatkan keamanan sistem tersebut.

Sementara para “bandit” dikategorikan ‘Black Hat Hacker’ atau ‘Unethical Hacker’, pembobol-pembobol sistem yang mengeksploitasi kelemahan dalam sistem untuk mencuri data pribadi, merusak atau bahkan mengubah jaringan penting. Tujuannya adalah tebusan, meski kadang kala tidak sedikit yang melakukannya sekadar untuk bersenang-senang.

Kemudian ada ‘Red Hat Hacker’ dan ‘Grey Hat Hacker’ yang sedikit banyak mirip ‘White Hat’ dan Black Hat, tapi dengan “kadar” lebih “ringan”. Para ‘Red Hat’ adalah orang-orang bayaran, sedangkan ‘Grey Hat’ tidak, walau mereka tetap membuka diri untuk membantu apabila diminta untuk memperbaiki peretasan yang dilakukan –tentu saja dengan imbalan.

Jenis terakhir adalah ‘Blue Hat Hacker’ alias Si Topi Biru. Ini ‘hacker’ paling unik, paling ramah, tapi di lain sisi, bisa jadi sekaligus yang paling kejam. Mereka bekerja dengan bayaran sebagai profesional untuk menguji kelemahan sistem. Sampai di sini, mereka jelas “teman”. Namun mereka bisa berubah ganas tiap kali terlibat, atau merasa terlibat, dengan perkara-perkara yang bersifat personal. Bertitik tolak dari dendam, misalnya, mereka bisa dengan gampang melakukan peretasan terhadap berbagai data pribadi, lalu mengubah, merusak, bahkan mempublikasikannya secara terbuka ke publik.

Hacker yang turun gelanggang meramaikan sepak bola Indonesia memiliki nama siber @volt_anonym. Ia, sejauh ini, telah “menyerang” akun-akun pribadi dua pundit Indonesia, Tommy Welly (Towel) dan Justinus Lhaksana (Coach Justin). Pada unggahan terakhir di Instagram, @volt_anonym juga memberi peringatan kepada pundit lainnya, Akmal Mahali.
Dari kelima klasifikasi di atas, @volt_anonym termasuk yang mana satu? Rasa-rasanya, pertanyaan ini tidak terlalu penting dijawab. Apakah ia Blue, ia Red, atau ia Black, memang tak jadi soal. Yang jadi soal, yang barangkali lebih penting untuk dicari tahu, adalah kenapa hacker yang –konon disebut-sebut– cukup “disegani” di dunia per-hacker-an ini sampai turun gelanggang dan melancarkan serangannya ke Towel, Coach Justin, dan Akmal Mahali?

Sampai di sini ada dua kemungkinan. Pertama, @volt_anonym, bekerja dengan bayaran. Siapa yang membayar? Tentu orang-orang yang merasa terganggu dengan segala macam ocehan ketiga pundit tersebut. Harus secepatnya dihentikan ketimbang isunya makin panas dan melebar ke mana-mana.

Kemungkinan lain, dia melakukannya tanpa sangkut-paut dengan siapa pun. Dia melakukannya untuk dirinya sendiri. Mungkin lantaran kesal. Bisakah demikian? Bisa saja, toh, hacker juga manusia, juga penggemar sepak bola, dan –sangat boleh jadi– suporter Tim Nasional Indonesia. Siapa tahu malah suporter “garis keras” pula, yang dalam hal ini, lantaran sudah kelewat kesal barangkali tak lagi mempertimbangkan “wibawanya” sebagai hacker “papan atas” dan secara langsung melakukan penyerangan terhadap pribadi-pribadi yang “bukan siapa-siapa” di jagat digital.

Kedua kemungkinan ini bisa jadi sama-sama benar. Pertanyaan lebih lanjutnya, kenapa kekesalan mencuat?

Towel tidak perlu dibahas. Orang ini, sejak rezim PSSI berganti nyaris konsisten melontar kritik. Baik yang objektif maupun subjektif bin ngawur. Belakangan, sorotannya malah kian mengerucut pada pribadi Shin Tae-yong, Pelatih Kepala Tim Nasional Indonesia. Seperti sudah kepalang basah, ketimbang tanggung kadang objektif kadang subjektif, Towel sepenuhnya menceburkan diri di ranah personal. Akmal sebenarnya juga masuk dalam wilayah ini –meski dia relatif lebih pandai mengikuti arah angin. 

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved