Sumut Terkini
RSUD Djoelham Beberkan Penyebab Wafatnya Pasien yang saat Cuci Darah Ada Tulisan "No Water"
Hal ini disampaikan Plt Direktur RSUD Djoelham Binjai, dr Romy Ananda Lukman melalui dr Alfred Situmorang spesialis penyakit dalam
Penulis: Muhammad Anil Rasyid | Editor: Ayu Prasandi
"Dari fakta-fakta yang ada tidak mengejutkan lah jika kondisi ibu Almarhumah R Br Ketaren tiba-tiba mengalami ketidak stabilan saat hemodialisis dilakukan.
Selain itu ada fakta non medis yang sangat berpengaruh terhadap perburukan pasien. Di mana pada saat cuci darah pertama, almarhumah dalam kondisi yang tidak kompeten dalam memberikan persetujuan untuk dilakukan tindakan cuci darah," kata Alfred.
Oleh sebab itu karena kondisi kesadaran pasien terganggu, maka pada waktu persetujuan hemodialisis diambil alih oleh keluarga besar.
"Setelah menjalani dialisis pertama, pasien kesadaran yang membaik namun tidak dapat sepenuhnya menerima bahwa dirinya harus menjalani cuci darah, apalagi harus rutin tiap minggu," kata Alfred.
"Perlu disampaikan juga bahwa, hemodialisis bukanlah tindakan medis yang dapat menjamin kondisi almarhumah pasti akan membaik," sambungnya.
Walaupun demikian, Alfred menegaskan pihaknya selaku petugas kesehatan tentu telah berusaha dan berupaya sejauh apa untuk membantu kesehatan Almarhumah Rantam Br Ketaren, agar pasien dapat berkumpul kembali bersama keluarga besar.
"Dan semua tindakan hemodialisis ini sudah dijelaskan kepada keluarga almarhumah dan tertuang dalam lembaran persetujuan tindakan hemodialisis yang juga ditandatangani oleh keluarga atasnama Tiopan Tarigan Yaitu anak kandung almarhumah.
Sebagai manusia biasa dari hati yang tulus dan lubuk hati yang paling dalam kami meminta maaf. Jika ada sikap maupun kata-kata yang tanpa kami sadari menyinggung perasaan keluarga," tutup Alfred.
Sementara itu Kuasa Hukum RSUD Djoelham, Arif Simatupang membantah jika R Br Ketaren wafat karena malapraktik.
"Karena indikasi yang sudah disampaikan tidak ada yang namanya malapraktik. Karena malapraktik itu kelalaian melalukan perawatan terhadap pasien," ujar Arif.
Kemudian, RSUD Djoelham juga siap secara hukum dalam bentuk apapun yang akan dilakukan anak pasien yang tak terima atas wafat ibunya.
"Dalam bentuk apapun dari sikap yang dilakukan oleh anak kandung Almarhumah R Br Ketaren kami siap secara hukum, kalau ia tidak terima," ujar Arif.
Diketahui sebelumnya, peristiwa ini sempat beredar viral dan heboh dimedia sosial.
Kejadian ini bermula pada saat R Br Ketaren menjalani cuci darah yang untuk kedua kalinya di RSUD Djoelham.
"Ibu saya masuk ke RSUD Djoelham pada tanggal 8 Februari 2025 kemarin. Pertama kali cuci darah pada tanggal 12 Februari. Dan cuci darah kedua pada tanggal 15 Februari 2025, hamun ibu saya meninggal dunia," ujar Tiopan anak korban saat diwawancarai, Kamis (27/2/2025).
Terekam CCTV Aksi Pria di Asahan Maling Motor di Masjid |
![]() |
---|
Timbul Lingga Difavoritkan Kembali Pimpin DPC PDIP Siantar, Berikut Rekam Jejaknya |
![]() |
---|
Jaksa Belum Tetapkan Tersangka pada Dugaan Korupsi Pengadaan Smartboard di Langkat, Ini Alasannya |
![]() |
---|
Harimau Sumatera Keluar Hutan di Karo, Terekam Masuk ke Perladangan di Kecamatan Kutabuluh |
![]() |
---|
15 Tuntutan Buruh se-Sumut, Gelar Aksi Unjuk Rasa di Gedung DPRD Sumut |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.