Breaking News

Berita Viral

MOTIF Ardi Sahputra Pembunuh Sadis Paman dan 4 Sepupunya di Aceh, Ungkap Dendam Lama

Terkuak motif Ardi Sahputra alias AS (21) pembunuh sadis terhadap paman dan empat sepupunya sendiri di Aceh Tenggara dengan cara kepala dibacok

Tribun Gayo/Bagus Setiawan/Ist
PEMBANTAIAN KELUARGA - Kolase foto nenek Samidah (kiri) dan pelaku Ardi Syahputra (kanan). Dendam lama berujung tragedi. Seorang pemuda bantai 5 anggota keluarganya. Nenek pelaku justru minta cucunya dihukum mati. 

TRIBUN-MEDAN.COM – Terkuak motif Ardi Sahputra alias AS (21) pembunuh sadis paman dan empat sepupunya di Aceh Tenggara.

Motif AS pelaku pembunuhan brutal terhadap satu keluarganya sendiri di Aceh Tenggara akhirnya terkuak.

Seperti diketahui, tragedi berdarah yang terjadi di Kabupaten Aceh Tenggara tersebut sempat menggemparkan dunia maya.

Dimana pria 21 tahun itu tega menghabisi nyawa keluarganya sendiri.

Bahkan AS secara brutal menghabisi lima nyawa sekaligus menggunakan senjata tajam berupa parang.

Kelima korban yang meninggal dunia adalah pamannya, Nayan (50), serta sepupunya sendiri, Elvi (16), Laura (13), Fajri (2), dan Dayat (26).

Selain itu, satu orang tetangga korban bernama Matiah (51) juga turut diserang oleh pelaku.

Beruntung, Matiah selamat dari insiden tersebut, meskipun sempat kritis dan dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sahuddin, Kutacane.

Baca juga: Istri Tolak Cerai meski Suami Selingkuh 104 Kali dalam 2 Tahun, Selingkuhan yang Hamil Mengamuk

Terkini, pelaku AS akhirnya berhasil ditangkap oleh pihak Polres Aceh Tenggara setelah buron selama delapan hari.

Ia diringkus di Desa Kute Mejile, Kecamatan Tanoh Alas, Kabupaten Aceh Tenggara, pada Senin (23/7/2025) malam.

Setelah sempat bungkam selama beberapa hari, tersangka akhirnya buka suara saat pra-rekonstruksi yang digelar di Mapolres Aceh Tenggara pada Kamis (3/7/2025) sore.

Tersangka mengaku tega menghabisi nyawa keluarganya sendiri karena menyimpan luka lama yang berubah menjadi dendam mendalam.

Kapolres Aceh Tenggara, AKBP Yulhendri, menjelaskan bahwa AS menyimpan dendam terhadap keluarga korban akibat peristiwa di masa lalu.

AKBP Yulhendri mengungkapkan bahwa ayah pelaku pernah dikeroyok, diusir, dan dihina oleh keluarga korban saat mereka tinggal di Kabupaten Bener Meriah.

Sejak kejadian itu, AS dan ayahnya hidup terasing di tengah hutan Pegunungan Kompas, Aceh Tenggara, tanpa akses air bersih maupun listrik.

Halaman
123
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved