Berita Asahan Terkini

Oknum Pengabdi Pesantren di Kisaran Peras dan Ancam Bunuh Santri

Pelaku RGRS kerap memintai uang kepada korban dengan ancaman akan memukuli hingga dibunuh bila tidak memberikan uang yang dimintanya.

Tayang:
TRIBUN MEDAN/Alif Al Qadri Harahap
KORBAN PEMERASAN -Chandra, orang tua korban yang mengaku anaknya diperas dan dianiaya oleh pengabdi di salah satu pesantren di Kelurahan Sentang, Kecamatan Kisaran Timur, Kabupaten Asahan. Kini sudah melapor ke Polres Asahan untuk diambil proses secara hukum, Sabtu (13/12/2025). 

Namun, kejutan tersebut benar adanya, ketika Chandra bertemu dengan korban dan tiga teman lainnya yang juga mengaku diperlakukan serupa oleh pengabdi tersebut.

"Saat itu saya bawa mereka makan di salah satu rumah makan di Kisaran, di sana mereka menceritakan bahwa mereka sudah dikompas (diperas, red) dan dianiaya oleh pelaku RGRS. Keempatnya saat itu mengaku bahwa bila tidak diberikan uang, maka pelaku akan menganiaya anak saya," ungkapnya.

Akhirnya, Chandra menghubungi orang tua dari tiga teman anaknya itu dan menceritakan apa yang dikatakan oleh para santri tersebut.

"Awalnya semua orang tua mendukung, tapi satu dari orang tua akhirnya mundur karena mengaku masih ada lingkaran dengan keluarga pelaku. Itu tidak bisa kita paksa. Hanya, tinggal kami bertiga yang saat ini keberatan," katanya.

Ungkapnya, akibat perbuatan itu, anaknya terpaksa mengutang ke teman-temannya untuk memenuhi permintaan pelaku.

"Kami setiap pekan ngasih ke anak kami ini untuk uang jajannya. Tapi bisa dia ngutang sampai Rp 2 juta?. Rupanya pelaku minta uang ke anak saya ini. Dia manggil naik ke kamar yang sudah dikosongkannya, kemudian di stel musik boxing, dia mukuli anak saya seperti samsak," jelasnya.

Pelaku selalu beraksi tengah malam hingga dini hari ketika para ustad dan pengurus pesantren pulang ke rumah dan sekolah dalam kondisi kosong.

"Anak saya mengaku sudah empat bulan diperlakukan seperti itu oleh pelaku, di kelas 7 dan 8 ga pernah dia sakit, di kelas 9 ini kok sering kali sakit. Saya pikir juga lah dia malas sekolah, rupanya gara-gara si pelaku ini," katanya.

Ungkapnya, pelaku kerap menyiksa anaknya tidak pandang waktu.

Berdasarkan keterangan sang anak, dirinya kerap disiksa meskipun dalam kondisi sakit hingga diancam akan dibunuh.

"Anak saya pernah sakit. Dia tidur, kemudian dipijaknya perut anak saya disuruhnya mencari uang untuk dia. Dia juga menganiaya anak saya sering, di depan teman-teman anak saya. Hanya mereka ga berani angkat suara," katanya.

Ia mengaku, kerap melihat lebam di tubuh anaknya, namun berdasarkan pengakuan sang anak bahwa luka lebam itu akibat olahraga futsal yang diminatinya.

"Kami punya tukang urut, jadi pas diurut, kata tukang urut badan anak saya penuh luka lebam. Tapi ngakunya main futsal. Inilah terakhir dia mengakui bahwa dia beberapa waktu lalu dicekik dan dipukul pelaku, kami lakukan visum, dan benar ada ditemukan cekikan di leher anak saya," ungkapnya.

Melalui kuasa hukumnya, kini keluarga telah melaporkan peristiwa ini ke Polres Asahan untuk ditindaklanjuti oleh Satuan reserse kriminal Polres Asahan.

"Klien kami sudah resmi melaporkan peristiwa ini ke Polres Asahan untuk diproses secara hukum perbuatan pelaku," kata pengacara keluarga korban, Muhammad Deni Royhan Azifa.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved