Citizen Reporter

Strategi Penanganan Banjir di Sumatera Berdasarkan Metode MIKO

Upaya penanganan sering terkendala oleh lemahnya koordinasi lintas sektor, keterbatasan data, serta belum optimalnya peran masyarakat. 

Penulis: Muhammad Nasrul | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN MEDAN/ISTIMEWA
Doktor lulusan Studi Pembangunan USU, Dr Sudiyatmiko Aribowo SH.MH 

"Dukungan dan kolaborasi dengan perguruan tinggi untuk prediksi banjir berbasis AI (Artificial Inteligence) dan GIS juga dipertimbangkan. Serta kemitraan dengan NGO untuk dukungan sosial, trauma healing, logistik, dan edukasi masyarakat," ucapnya. 

Sementara dari sektor organisasi  penguatan kelembagaan dan manajemen operasi juga terdapat temuan struktural komando belum sepenuhnya menerapkan ICS (Incident Command System). Dan pendanaan yang sering terhambat birokrasi.

Untuk itu, perlu dilakukannya implementasi penuh Incident Command System (ICS) di provinsi dan kabupaten/kota. Standardisasi SOP evakuasi, logistik, dan posko di seluruh Sumatera. Peningkatan kapasitas BPBD dan relawan melalui pelatihan teknis berkala. Penyediaan dana kontinjensi banjir tingkat provinsi sebagai respon cepat.

"Penempatan Posko PUSDALOPS permanen dengan dashboard terintegrasi, yang bisa mengecek data debit air, curah hujan, visual drone, serta status jalan dan akses," katanya. 

Melalui pemahaman ini, dampak yang diharapkan jika rekomendasi ini diimplementasikan maka harapan jangan pendeknya respons banjir lebih cepat dan terkoordinasi. Kemudian pengurangan korban jiwa dan kerugian material, informasi banjir lebih mudah diakses masyarakat.

Sementara jangka menengahnya, penurunan signifikan frekuensi dan dampak banjir, serta penguatan ketahanan masyarakat dan desa rawan. Untuk jangka panjangnya, diharapkan terbentuknya tata kelola banjir Sumatera yang terintegrasi, berkelanjutan, dan inklusif. Serta pemulihan ekosistem DAS dan pemanfaatan lahan yang lebih terkendali.

Dengan pendekatan ini, ia memiliki kesimpulan pendekatan MIKO memberikan kerangka komprehensif untuk penanganan banjir Sumatera. Dengan menempatkan mitigasi, inklusivitas, kolaborasi, dan organisasi yang kuat, daerah rawan banjir dapat meminimalkan risiko dan meningkatkan ketahanan lingkungan maupun sosial-ekonomi.

 

(mns/tribun-medan.com)

 

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan 

 

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved