Lima Pertunjukan Digelar di Medan, FTI Wadahi Komunitas Seni Lokal
Medan menjadi kota penyelenggara pertama, meski persiapan sempat terkendala banjir yang melanda sejumlah wilayah Sumatra
Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN — Kota Medan resmi menjadi tuan rumah pembuka Festival Teater Indonesia (FTI) 2025, sebuah perhelatan teater nasional yang untuk pertama kalinya digelar di empat kota yakni Medan, Palu, Mataram, dan Jakarta, Senin (1/12/2025).
Festival ini menampilkan lima pertunjukan teater serta menghadirkan program bincang karya, diskusi, jelajah panggung, lokakarya, dan Teras FTI yang mewadahi komunitas seni lokal.
FTI merupakan kolaborasi Titimangsa bersama PENASTRI (Perkumpulan Nasional Teater Indonesia) dan didukung oleh Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI.
Medan menjadi kota penyelenggara pertama, meski persiapan sempat terkendala banjir yang melanda sejumlah wilayah Sumatra.
Direktur Festival, Pradetya Novitri, mengatakan bahwa beberapa akses menuju lokasi sempat terputus dan sejumlah penonton batal hadir.
Baca juga: Digagas Happy Salma, FTI Hadirkan 20 Kelompok Teater di Empat Kota Termasuk Medan
“Kami mengutamakan keselamatan seluruh tim kerja. Di tengah musibah, semangat teman-teman PO Wilayah Medan tetap menyala. Sebelum layar panggung dibuka, kami mengajak penonton untuk hening sejenak dan mendoakan para korban banjir,” ujar Pradetya.
Ia berharap FTI menjadi ruang pertemuan yang hidup antara seniman, komunitas, dan publik dari berbagai kota, sehingga memunculkan kolaborasi-kolaborasi baru.
Sebagai penggagas festival, Happy Salma menegaskan bahwa FTI hadir sebagai ruang silaturahmi teater lintas wilayah.
“Meski latar belakang kita berbeda, panggung bisa menyatukan. Saya berharap Festival Teater Indonesia menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan dalam ekosistem seni teater Tanah Air,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya penghargaan Pengabdian Seumur Hidup FTI (PSH FTI) bagi para tokoh teater yang telah berkarya lebih dari 25 tahun.
“Menghidupi kesenian butuh stamina panjang dan integritas. Para penerima penghargaan ini memberi keyakinan bahwa seni benar-benar bisa menghidupi,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Happy kembali menegaskan harapannya pada ekosistem teater Indonesia.
“Di tengah musibah dan ketidakpastian, seni tetap memberi harapan. Daya cipta manusia adalah pegangan kita semua,” ungkapnya.
Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Ahmad Mahendra, menyampaikan bahwa FTI selaras dengan agenda Kementerian Kebudayaan dalam penguatan ekosistem sastra dan program Manajemen Talenta Nasional (MTN).
“FTI menjadi ruang penting untuk alih wahana karya sastra Indonesia serta membuka kesempatan lahirnya talenta baru di panggung nasional dan internasional,” ucap Mahendra.
Ia menegaskan tiga tujuan utama FTI, yakni menjadi ruang belajar dan kolaborasi, pendorong regenerasi teater, serta memperluas akses masyarakat terhadap seni pertunjukan.
Tema FTI 2025, Sirkulasi Ilusi, menyoroti pertemuan antara realitas dan representasi seni di era kontemporer.
Direktur Artistik FTI, Sahlan Mujtaba, menjelaskan bahwa proses kurasi mempertimbangkan estetika, relevansi kota penyelenggara, dan representasi generasi.
“Keberagaman gaya, medium, dan bentuk eksperimental penting agar penonton melihat spektrum pertunjukan yang luas,” kata Sahlan.
Ia juga menilai kehadiran FTI di Medan menjadi kesempatan memperkuat ekosistem lokal. Menurutnya, pembukaan hari pertama menunjukkan antusias besar dari pelajar, mahasiswa, dan pegiat teater muda. Seluruh pertunjukan juga dibuka gratis untuk masyarakat.
Sahlan menambahkan bahwa program arsip FTI menjadi langkah penting dalam mendokumentasikan sejarah teater.
“Di banyak daerah ekosistem teater kaya tapi kurang terdokumentasi. Program arsip FTI penting untuk merawat jejak sejarah lokal,” ujarnya.
Proses pendampingan bagi kelompok teater terpilih dilakukan secara intensif. Kurator FTI asal Padang Panjang, Tya Setyawati, mengatakan bahwa pendampingan dilakukan dengan pendekatan yang humanis.
“Pendekatannya kekeluargaan. Intinya menjadi pendengar yang baik dan teman ngobrol yang asyik,” katanya.
Menurutnya, cara ini membantu para seniman menyiapkan karya terbaiknya di panggung FTI.
FTI berlangsung 1–16 Desember 2025 di empat kota, yakni Medan, Palu, Mataram, dan Jakarta.
Tiket gratis dapat dipesan melalui tiket.titimangsa.com, sementara pembaruan informasi tersedia di Instagram @festivalteater.id dan laman festivalteater.id.
Pertunjukan digelar di Auditorium RRI Medan pada 1–3 Desember 2025, jadwalnya yaitu
- 1 Desember 2025
16.00 WIB: Tangga Mimpi, Porman Wilson Manalu (Medan, Sumut)
20.00 WIB: Omnibus Monolog Dapur, Luna Vidya / Storytelling Academy (Makassar, Sulsel)
- 2 Desember 2025
16.00 WIB: Orang Proyek, Teater Kurusetra (Bandar Lampung)
20.00 WIB: Resonansi Tanah, Stage Corner Community (Tangerang, Banten)
- 3 Desember 2025
20.00 WIB: Tubuh yang Menari, Bali Eksperimental Teater (Jembrana, Bali)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Pertunjukan-teater-dalam-rangkaian-Festival-Teater-Indonesia-_11.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.