Serunya Berburu Takjil di Jalan Amaliun Medan, Ada Kue Tradisional hingga Mi Gomak

berburu takjil bukan sekadar membeli makanan, tetapi juga bagian dari tradisi Ramadan yang menghadirkan suasana kebersamaan.

Penulis: Dedy Kurniawan | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN MEDAN/ISTIMEWA
BERBURU TAKJIL - Hilir mudik ribuan warga padati Jalan Amaliun. Warga berburu takjil berbuka puasa pertama, Kamis (19/2/2026) 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Menjelang waktu berbuka puasa, suasana di Jalan Amaliun, Kota Medan, Kamis (19/2/2026) berubah sibuk dibanding hari biasa. Deretan tenda sederhana berbalut terpal warna-warni berdiri rapat di sisi jalan.

Asap tipis dari wajan penggorengan mengepul, aroma manis santan dan gula merah bercampur dengan gurihnya minyak panas. Inilah momen berburu takjil yang selalu dinanti setiap Ramadan.

Sejak pukul 16.30 WIB, warga mulai memadati kawasan yang memang dikenal sebagai salah satu sentra kuliner Ramadan itu. Pengendara sepeda motor berjejer mencari celah parkir, sementara mobil-mobil melambat, membuat arus lalu lintas tersendat.

"Mau cari makanan khas lepat dan gorengan sama mi gomak," kata Sasha.

Klakson bersahut-sahutan, namun wajah-wajah tetap terlihat sumringah. Macet seolah menjadi ritual tahunan yang tak terpisahkan dari kemeriahan berburu takjil di Amaliun.

Di salah satu sudut, gorengan menjadi primadona. Pisang goreng, tahu isi, bakwan, hingga risol disusun menggunung di atas nampan.

Baca juga: Takjil Ramadan 2026 di Medan Ramai Diburu, Ini 5 Lokasi Favorit Warga Cari Menu Berbuka

"Kalau Ramadan begini, bisa dua kali lipat habisnya. Kalau ditanya gimana hari pertama ya biasa belum ramai sekali. Biasa begitu," ujar Rahma (43), pedagang yang mengaku sudah berjualan di Amaliun lebih dari 10 tahun.

Wajan besarnya tak pernah sepi dari adonan yang masuk dan keluar dalam hitungan menit.

Tak jauh dari situ, lapak mi goreng dan mi balap khas Medan juga diserbu pembeli. Dentingan spatula beradu dengan kuali, mi ditumis cepat bersama telur, tauge, dan irisan cabai. Aroma bawang putih yang ditumis menguar kuat, menggoda siapa saja yang melintas. Beberapa pembeli rela antre demi seporsi mi panas untuk menu berbuka.

Yang paling mencuri perhatian tentu deretan kue-kue tradisional khas Sumatera Utara. Lemang pulut yang dibakar dalam bambu tersusun rapi, berdampingan dengan lupis bersiram gula aren, kue talam berlapis lembut, hingga kue putu bambu yang mengepulkan uap saat diangkat dari cetakan. Warna-warni kue lapis dan bolu gulung menambah semarak meja jualan.

“Setiap tahun pasti ke sini. Lengkap, dari yang manis sampai gurih ada semua,” kata Ayna (29), warga Medan yang datang bersama pasangannya.

Menurutnya, berburu takjil bukan sekadar membeli makanan, tetapi juga bagian dari tradisi Ramadan yang menghadirkan suasana kebersamaan.

Menjelang azan Magrib, keramaian semakin memuncak. Pembeli bergegas menyelesaikan transaksi, pedagang sibuk menghitung uang kembalian. Di tengah padatnya kendaraan dan riuh tawar-menawar, terselip canda dan sapaan hangat antarwarga.

Jalan Amaliun sore bukan sekadar lokasi jual beli. Ia menjelma ruang temu, tempat cerita-cerita kecil Ramadan bertukar. Meski arus lalu lintas sempat macet dan petugas harus beberapa kali mengatur kendaraan yang menumpuk, tak ada keluhan berarti. Semua mafhum, Ramadan memang selalu membawa keramaian, dan kerinduan yang sama setiap tahunnya.

 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved