Nur Hilmi Daulay, Seriusi Dunia Literasi untuk Anak Indonesia
Dari kebiasaan membacakan buku untuk anaknya, ia mulai mengarang cerita sendiri yang disesuaikan dengan kebutuhan sang anak
Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Kecintaan terhadap dunia anak-anak mengantarkan seorang guru Sekolah Dasar di Medan, Nur Hilmi Daulay, menjadi penulis cerita anak yang karyanya telah diterbitkan di tingkat nasional.
Guru SD Negeri 067245 Medan Selayang itu mengaku, perjalanan kepenulisannya tidak dimulai dari cerita anak. Saat remaja, ia lebih banyak menulis puisi dan cerpen yang dimuat di majalah dinding sekolah hingga surat kabar di Medan.
Namun, titik baliknya terjadi ketika menjadi seorang ibu. Dari kebiasaan membacakan buku untuk anaknya, ia mulai mengarang cerita sendiri yang disesuaikan dengan kebutuhan sang anak.
“Kalau anak susah makan atau susah mandi, saya membuat tokoh cerita sederhana yang mengalami hal serupa. Dari situ banyak inspirasi muncul,” ujarnya.
Keseriusannya menulis cerita anak semakin tumbuh ketika mengetahui adanya sayembara menulis cerita anak yang diselenggarakan Balai Bahasa Sumatera Utara sekitar tahun 2018-2019.
Meski beberapa kali gagal, Hilmi tidak menyerah. Ia terus memperbaiki kemampuan menulisnya hingga akhirnya pada 2021 naskah berjudul ‘Togu berhasil lolos dan menjadi karya pertamanya yang diterbitkan.
“Tentu sangat bahagia setelah melalui proses yang panjang. Lebih bahagia lagi ketika buku itu bisa berada di tangan anak-anak Indonesia, dibaca, dan bermanfaat untuk mereka,” katanya.
Baca juga: Kantor Perwakilan LPS I Gelar Workshop Masterclass AI, Bekali Anak Muda Literasi Keuangan Digital
Naskah ‘Togu’ mengangkat kisah seorang anak disabilitas yang gigih berjuang menghadapi berbagai tantangan hidup.
Menurut Hilmi, alasan utama dirinya tetap konsisten menulis hingga kini adalah kecintaan terhadap dunia kepenulisan dan anak-anak. Sebagai guru SD, ia merasa memiliki kedekatan yang kuat dengan kehidupan anak-anak sehingga banyak inspirasi lahir dari keseharian di sekolah.
“Dalam setiap tulisan, saya selalu berusaha menyisipkan nilai-nilai karakter. Harapannya, anak-anak mendapat pesan positif tanpa merasa digurui,” ujarnya.(cr26)
Dari sejumlah karya yang telah ditulis, Hilmi menyebut buku ‘Tetanggaku Laut’ sebagai karya yang paling berkesan.
Buku yang lolos Gerakan Literasi Nasional (GLN) 2025 itu mengangkat tema pelecehan seksual terhadap anak, sebuah isu yang menurutnya cukup sensitif dan menantang untuk ditulis.
Ia mengaku terinspirasi dari pengalaman seorang siswa yang menjadi korban pelecehan seksual di lingkungan tempat tinggalnya.
“Bagaimana mengemas tema ini agar cocok dibaca anak-anak, tidak vulgar, tetapi pesannya sampai, itu tantangan terbesar,” katanya.
Melalui buku tersebut, Hilmi berharap anak-anak lebih waspada terhadap berbagai bentuk pelecehan yang kerap dilakukan orang-orang terdekat dengan berbagai bujukan.
| Dari Medan untuk Anak Indonesia, Kiprah Nur Hilmi Daulay di Dunia Literasi |
|
|---|
| Medan Book Party, Bangun Ruang Literasi yang Santai dan Menyenangkan untuk Anak Muda |
|
|---|
| Antusias Pegiat Literasi Sumut Hadiri Dialog Publik Tanoto Foundation, Perkuat Kolaborasi |
|
|---|
| Gemar Membaca Meningkat, Literasi Sumut Masuk 10 Besar Nasional |
|
|---|
| Rumah Literasi Mangrove Tanjung Rejo Resmi Berdiri, Dorong Minat Baca Anak Pesisir |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Nur-Hilmi-Daulay.jpg)