Nilai Tukar Rupiah

Rekor Rupiah Terlemah Selasa 26 Mei 2026, Tembus Rp 17.781 per Dolar AS

Setelah cetak rekor di level Rp17.744 per dolar AS pada penutupan perdagangan Senin kemarin, hari ini rupiah makin melemah

Tayang:
Editor: Juang Naibaho
TRIBUNNEWS.COM/HERUDIN
Ilustrasi uang. Setelah mencetak rekor di level Rp17.744 per dolar AS pada penutupan perdagangan Senin (25/5/2026) kemarin, hari ini Selasa (26/5/2026) rupiah dibuka di angka Rp17.749, turun 5 poin atau 0,0,03 persen. 

TRIBUNMEDAN.com - Nilai tukar rupiah pada Selasa (26/5/2026) pagi masih bergerak melemah.

Setelah mencetak rekor di level Rp17.744 per dolar AS pada penutupan perdagangan Senin (25/5/2026) kemarin, hari ini rupiah dibuka di angka Rp17.749, turun 5 poin atau 0,0,03 persen.

Per pukul 09.32 WIB, rupiah terdepresiasi 37 poin atau 0,21 persen ke level 17.781 per dolar AS.

Pelemahan kurs rupiah dinilai masih dipengaruhi sentimen domestik maupun global yang belum sepenuhnya kondusif bagi pasar keuangan Indonesia. 

Karena itu, rupiah diprediksi bakal anjlok ke posisi Rp 17.800 per dollar AS pada perdagangan Selasa hari ini. 

“Ya masih akan melemah di level Rp 17.740 sampai di level Rp 17.800 per dollar AS,” ujar Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi.

Baca juga: Nelayan Percut Sei Tuan Ngeluh Sudah Seminggu Susah Dapatkan Solar dan Tak Bisa Melaut

Airlangga Sebut Fundamental Kuat

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membandingkan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam dua dekade terakhir.

Menurut dia, tekanan terhadap rupiah saat ini jauh lebih terkendali dibanding periode sebelumnya. 

Airlangga mengatakan pada periode 2004-2014 nilai tukar rupiah terdepresiasi hingga sekitar 40 persen dalam kurun 10 tahun. 

“Saya hanya menyampaikan bahwa rupiah itu di tahun 2004-2014 terdepresiasinya 40 persen dalam 10 tahun. Dan itu dengan inflasi yang di tahun 2005 di 17 persen, karena harga minyak naik ke 140 dollar AS per barrel,” ujar Airlangga dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah (KNPED) 2026 di Jakarta, Senin (25/5/2026). 

Sementara itu, pada periode 2014-2024, depresiasi rupiah tercatat lebih rendah yakni sekitar 30,6 persen dengan tingkat inflasi yang jauh lebih terkendali di kisaran 3 persen. 

“Nah sedangkan di periode 2014-2024 itu rupiah depresiasinya 30,6 persen dan inflasinya 3 persen. Jadi beda kualitas dalam dua dekade terakhir,” kata Airlangga. 

Ia menambahkan, kondisi saat ini juga dinilai lebih baik karena inflasi domestik masih dapat dijaga di level rendah, sementara pelemahan rupiah sejak awal tahun relatif terbatas. 

“Per hari ini inflasi kita jaga di 2,4 persen dan depresiasi rupiah 5 persen,” ujarnya.

Menurut Airlangga, kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini juga lebih kuat dibanding masa lalu. 

Ia menyebut sektor korporasi dan perbankan nasional masih berada dalam kondisi solid di tengah tekanan global dan gejolak pasar keuangan internasional.

“Fundamental kita hari ini solid, kemudian dari segi korporasi juga seluruhnya solid. Jadi seperti yang saya selalu sampaikan, ekonomi kita masih kuat,” tutur dia. (*/tribunmedan.com)

Artikel ini sudah tayang di Kompas.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved