Ramadan 2026

Sensasi Pahit yang Dirindukan, Pakkat Bakar Jadi Buruan Warga Medan saat Ramadan

Pakkat merupakan makanan khas Mandailing yang telah lama menjadi bagian dari tradisi masyarakat Tapanuli Selatan

Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/Husna Fadilla Tarigan
PAKKAT BAKAR- Pedagang menyiapkan pakkat bakar dagangannya di kawasan Jalan Letda Sujono, Medan, Jumat (20/2/2026). Kuliner khas Mandailing berbahan pucuk rotan muda ini kembali menjadi buruan warga sebagai menu pelengkap berbuka puasa selama Ramadan.  

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN- Memasuki bulan suci Ramadan, kepulan asap dari pembakaran pakkat kembali terlihat di sejumlah sudut Kota Medan, khususnya di sepanjang Jalan Sisingamangaraja dan Jalan Letda Sujono. 

Aroma khas pucuk rotan muda bakar ini menjadi penanda hadirnya salah satu kuliner tradisional yang selalu dirindukan warga saat berbuka puasa.

Pakkat merupakan makanan khas Mandailing yang telah lama menjadi bagian dari tradisi masyarakat Tapanuli Selatan, terutama bagi para perantau di Kota Medan. 

Meski memiliki cita rasa pahit dan sedikit kelat, pakkat justru dipercaya mampu meningkatkan selera makan setelah seharian menahan lapar dan dahaga.

Kuliner ini memiliki sejarah panjang yang diwariskan secara turun-temurun.

Konon, pakkat pertama kali dikonsumsi para pekerja rodi pada masa kolonial Belanda saat mereka kesulitan mendapatkan bahan pangan di pedalaman hutan.

Dari situlah pucuk rotan muda mulai diolah dengan cara dibakar dan terus dilestarikan hingga kini.

Nur (45) pedagang pakkat bakar di Jalan Letda Sujono menyampaikan, proses pembuatannya tergolong unik.

Pucuk rotan sepanjang sekitar satu meter dibakar di atas bara api kayu atau batok kelapa selama 15 hingga 20 menit hingga kulit luarnya menghitam.

Setelah itu, bagian luar dikupas dan menyisakan inti berwarna putih yang siap disantap.

“Pakkat ini sudah jadi tradisi. Kalau puasa, masyarakat dari berbagai suku, mulai dari Mandailing, Jawa sampai Melayu pasti mencarinya untuk lalapan berbuka,” ujar Nur kepada Tribun Medan, Jumat (20/2/2026).

Nur telah berjualan selama sembilan tahun terakhir. Ia mengaku Ramadan menjadi momen paling ramai bagi penjual pakkat.

“Kalau bulan puasa permintaan meningkat. Dalam sehari bisa terjual sekitar 500 batang bahkan lebih,” ungkapnya.

Nur menjual pakkat seharga Rp10.000 per batang. Sementara sambal cabai sebagai pelengkap dijual Rp3.000 per porsi.

Menurutnya, banyak pelanggan membeli dalam jumlah banyak untuk disantap bersama keluarga saat berbuka.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved