Ramadan 2026

3 Menu Khas Mandailing yang Selalu Dicari Saat Ramadan, dari Pakkat hingga Toge Panyabungan

Memasuki pekan awal Ramadan 1447 Hijriah, suasana berburu takjil di sejumlah sudut Kota Medan mulai ramai.

Tayang:
TRIBUN MEDAN/HUSNA FADILLA TARIGAN
MENU RAMADAN - Pedagang menyiapkan minuman khas Mandailing, Toge Panyabungan, yang menjadi salah satu takjil favorit warga saat Ramadan di Kota Medan, Senin (23/2/2026). Kuliner tradisional bercita rasa manis dan gurih ini banyak diburu masyarakat untuk menu berbuka puasa. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Memasuki pekan awal Ramadan 1447 Hijriah, suasana berburu takjil di sejumlah sudut Kota Medan mulai ramai.

Selain menu kekinian, kuliner tradisional khas Mandailing kembali menjadi primadona tahunan yang selalu dicari masyarakat untuk menu berbuka puasa.

Keberadaan makanan khas dari wilayah Mandailing Natal dan Tapanuli Selatan ini tidak hanya menjadi pelepas rindu perantau, tetapi juga telah menjadi bagian dari tradisi kuliner Ramadan warga Medan lintas generasi.

Beberapa menu bahkan identik dengan bulan puasa karena hanya mudah ditemukan pada periode tersebut.

Berikut tiga menu khas Mandailing yang paling populer saat Ramadan di Kota Medan.

Pakkat, Cita Rasa Pahit yang Justru Diburu

Pakkat menjadi salah satu kuliner paling unik yang selalu hadir saat Ramadan. Makanan ini berasal dari pucuk rotan muda yang diolah dengan cara dibakar langsung di atas bara api hingga kulit luarnya menghitam.

Nur (45), pedagang pakkat bakar di Jalan Letda Sujono, menjelaskan proses pembuatannya tergolong khas dan masih menggunakan cara tradisional. Pucuk rotan sepanjang sekitar satu meter dibakar menggunakan bara kayu atau batok kelapa selama 15 hingga 20 menit.

Setelah matang, kulit luar dikupas hingga menyisakan inti berwarna putih yang kemudian dipotong-potong dan siap disantap sebagai lalapan berbuka.

“Pakkat ini sudah jadi tradisi. Kalau puasa, masyarakat dari berbagai suku, mulai dari Mandailing, Jawa sampai Melayu pasti mencarinya untuk lalapan berbuka,” ujar Nur kepada Tribun Medan, Jumat (20/2/2026).

Nur mengaku telah berjualan pakkat selama sembilan tahun terakhir dan Ramadan selalu menjadi periode paling ramai bagi pedagang.

“Kalau bulan puasa permintaan meningkat. Dalam sehari bisa terjual sekitar 500 batang bahkan lebih,” ungkapnya.

Ia menjual pakkat seharga Rp10.000 per batang, sementara sambal cabai sebagai pelengkap dijual Rp3.000 per porsi. Menurutnya, banyak pelanggan membeli dalam jumlah besar untuk disantap bersama keluarga saat berbuka puasa.

Meski identik dengan masyarakat Mandailing, pembeli pakkat kini datang dari berbagai latar belakang suku yang telah akrab dengan cita rasa pahit khas makanan tersebut. Selain dipercaya dapat meningkatkan selera makan, pakkat juga kerap dianggap membantu melancarkan pencernaan setelah berpuasa seharian.

Toge Panyabungan, Takjil Manis Kaya Isian

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved