Ramadan 2026

3 Menu Khas Mandailing yang Selalu Dicari Saat Ramadan, dari Pakkat hingga Toge Panyabungan

Memasuki pekan awal Ramadan 1447 Hijriah, suasana berburu takjil di sejumlah sudut Kota Medan mulai ramai.

Tayang:
TRIBUN MEDAN/HUSNA FADILLA TARIGAN
MENU RAMADAN - Pedagang menyiapkan minuman khas Mandailing, Toge Panyabungan, yang menjadi salah satu takjil favorit warga saat Ramadan di Kota Medan, Senin (23/2/2026). Kuliner tradisional bercita rasa manis dan gurih ini banyak diburu masyarakat untuk menu berbuka puasa. 

Selain pakkat, masyarakat Medan juga banyak mencari Toge Panyabungan sebagai menu manis untuk berbuka. Meski namanya sering disalahartikan sebagai sayur kecambah, hidangan ini sebenarnya merupakan minuman segar dengan beragam isian.

Dalam satu mangkuk Toge Panyabungan biasanya terdapat lupis, pulut hitam, tape singkong, candil hingga cendol yang disiram kuah santan kental dan gula aren. Perpaduan rasa gurih dan manis menjadikannya favorit berbagai kalangan.

Kuliner khas Mandailing ini bahkan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia sejak 2017 karena nilai tradisi dan identitas budaya yang melekat kuat di masyarakat.

Selama Ramadan, penjual Toge Panyabungan mudah dijumpai di kawasan Masjid Raya Medan hingga berbagai pusat jajanan sore di kota ini.

Ikan Sale, Menu Berat Favorit Keluarga

Untuk hidangan utama berbuka maupun sahur, ikan sale dan daun ubi tumbuk tetap menjadi pilihan favorit keluarga.

Ikan sale merupakan ikan asap yang umumnya berasal dari ikan limbat atau lele hutan. Olahan ini kerap dimasak menjadi gulai asam pade atau gulai santan pedas dengan rasa gurih khas dan aroma asap yang kuat.

Sebagai pelengkap, daun ubi tumbuk atau silalat diolah secara tradisional menggunakan lesung hingga halus, lalu dimasak bersama bumbu khas seperti rimbang dan kincung (kecombrang) yang memberikan aroma segar sekaligus cita rasa autentik Mandailing.

Kehadiran kuliner khas Mandailing diberbagai sudut Kota Medan, mulai dari kawasan Masjid Raya hingga Taman Cadika, menunjukkan bagaimana tradisi kuliner daerah tetap hidup di tengah masyarakat urban yang multikultural.

Bagi warga Medan, Ramadan bukan hanya momentum ibadah dan kebersamaan, tetapi juga waktu untuk menjaga warisan rasa yang terus diwariskan lintas generasi melalui hidangan khas Nusantara.

(cr26/tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan 

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved