Puasa di Negeri Orang
Cerita Rita Ginting, Temukan Hangatnya Ramadan di Kampus Amerika
Setelah tarawih selesai sekitar pukul 21.00 waktu setempat, Rita baru tiba di rumah sekitar pukul 22.00.
Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN- Menjalani Ramadan jauh dari keluarga tentu bukan perkara mudah. Namun bagi Rita Seroja Br Ginting, mahasiswi asal Medan yang kini menempuh studi di University of Illinois Urbana-Champaign, Amerika Serikat, bulan suci justru menghadirkan pengalaman spiritual yang berbeda dan berkesan.
Perempuan kelahiran Medan ini mengaku, Ramadan tahun ini menjadi puasa keduanya di Amerika.
“Ini sudah mau dua tahun saya di sini. Jadi sekarang puasa kedua,” ujar Rita saat berbagi cerita pengalamannya.
Rita yang merupakan alumni MAN 3 Medan itu mengatakan, salah satu momen yang paling membekas baginya adalah ketika menyaksikan langsung seseorang memeluk Islam di masjid kampus menjelang Ramadan.
“Waktu pertama datang tahun lalu, sebelum puasa kita tarawih dulu. Di situ diumumkan ada seorang yang ingin masuk Islam. Dia mengucapkan syahadat di depan jamaah, dan semua orang menyaksikan,” katanya.
Menurutnya, momen tersebut sangat menyentuh.
“Setelah selesai syahadat, semua orang langsung memeluk dia. Rasanya luar biasa. Di Indonesia saya jarang melihat langsung momen seperti itu,” ujarnya.
Menariknya, kata Rita, peristiwa serupa kembali terjadi pada Ramadan tahun ini.
“Tahun lalu yang masuk Islam laki-laki, tahun ini perempuan. Sepertinya banyak orang sengaja memilih Ramadan untuk memeluk Islam,” katanya.
Namun menjalani ibadah Ramadan di negeri orang juga memiliki tantangan tersendiri. Rita harus menempuh perjalanan cukup jauh untuk bisa salat tarawih di masjid.
“Di daerah saya cuma ada satu masjid. Dari tempat tinggal saya harus naik bus sekitar setengah jam, lalu jalan lagi sekitar 10 menit,” ujarnya.
Setelah tarawih selesai sekitar pukul 21.00 waktu setempat, Rita baru tiba di rumah sekitar pukul 22.00.
“Tahun pertama agak takut juga karena pulangnya malam dan jalannya gelap. Tapi busnya bus kampus, jadi masih cukup aman,” katanya.
Meski jauh dari tanah air, Rita mengaku suasana Ramadan tetap terasa hangat ketika berkumpul bersama komunitas muslim di sana.
“Waktu pertama tarawih saya langsung merasa seperti di rumah. Orang-orang berkumpul, ada yang pakai mukena, ada ceramah juga. Rasanya seperti Ramadan di Indonesia,” ujarnya.
| Cerita Ridwan, Puasa di Negara Seribu Gurun, Menikmati Syahdu Lantunan Alquran 1 Juz Tiap Malam |
|
|---|
| Ramadan di Korea, Thia Syafira Mahasiswi Medan Rindu Takjil hingga Kenalkan Sop Buah |
|
|---|
| Cerita Liska Rahayu, Caregiver Asal Medan Jalani Ramadan Pertama di Jepang |
|
|---|
| 2 Tahun Jalani Puasa di Negeri Sakura, Shobron Mengaku Hampa, Tak Merasakan Vibes Ramadan |
|
|---|
| Jadi Minoritas dan Jalani Ibadah Puasa Penuh Tantangan, Dona Rindu Tanah Air |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Rita-Seroja-Br-Ginting-saat-mengikuti-kegiatan-buka.jpg)