Tim TPID dan Webss dapat Bekal dari Diskursus Ekonomi ke Kalimantan Timur

Tim TPID dan Webss dapat Bekal dari Diskursus Ekonomi ke Kalimantan Timur

Editor: Aisyah Sumardi
TRIBUN MEDAN
Tim TPID dan Webss dapat Bekal dari Diskursus Ekonomi ke Kalimantan Timur 

TRIBUN-MEDAN.com, SIANTAR - Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sisi Batas Labuhan bersama Wartawan Ekonomi Bisnis Siantar-Simalungun mendapat bekal pengetahuan dan pendidikan dari kunjungan kerja ke sejumlah kota di Kalimantan Timur, Kamis-Sabtu (9-11/4/2026). Kunjungan ini menjadi instrumen pertukaran ide dan gagasan dari potensi ekonomi yang bisa dicontoh dari Kalimantan Timur. 

 

Sebagaimana diketahui, sejumlah Kota di Kalimantan Timur memiliki pertumbuhan ekonomi yang tinggi secara nasional. Berdasarkan data tahun 2025, Samarinda memiliki pertumbuhan ekonomi 8,66 persen dan Balikpapan dengan pertumbuhan ekonomi 10,24 % . Kaltim juga cukup spesial dengan kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN) yang ada di Kabupaten Penajam Paser Utara. 

 

Dengan segala kelebihan itu, TPID Sisi Batas Labuhan dan Webss yang berada di wilayah kerja KPW Bank Indonesia - Pematangsiantar coba menggali potensi daerah kunjungan dan persamaan yang ada di daerah masing-masing. 

Kepala KPw BI Pematangsiantar, Ahmadi Rahman menyampaikan bahwa Capacity Building di Balikpapan bisa memberikan gambaran untuk membenahi tata kelola ekonomi di daerah. Apalagi media merupakan pivot dalam pembentukan stabilitas, potensi, dan dampak dari kondisi ekonomi. 

 

“Media juga merupakan pihak yang paling penting. Karena media bisa membentuk optimistis dalam pembentukan ekonomi di daerahnya,” kata Ahmadi Rahman, Sabtu (11/4/2026).

“Bagaimana teman-teman Webss bisa belajar dari sini. Dan bagaimana pemberitaan ini, pro-growth dan pro-stability serta menjaga kerja-kerja ekonomi kita, inflasi kita, tetap dalam sasaran,” sambung Ahmadi. 

Sementara itu, Lukas Hendra Tri Meliyanto yang merupakan penulis dan pengamat ekonomi menyampaikan bahwa seorang wartawan ekonomi berperan menjadi penghubung strategis antar pihak di pasar dagang, menjaga kepercayaan publik, dan menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi. 

 

“Investor asing misalnya. Mereka akan membaca dulu kondisi Indonesia lewat media berbasis data untuk menentukan apakah masuk atau tidak di pasar saham? Nah, di sini kepercayaan media diperlukan,” kata Lukas. 

Begitu juga di daerah, ujar Lukas, seorang investor umumnya mencari data pembanding antara pemerintah dengan media untuk menentukan langkah apakah perlu berinvestasi di tempat tersebut. 

“Kemudian di daerah juga, Kalau di Kaltim ini tambang, Nah Sumut yang terkenal dengan produksi CPO dari sawit kita bisa ulas hilirisasinya kemana saja. Tracking produksi komoditasnya kemana,” sambung Lukas. 

 

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved