Sumut Terkini

Andaliman, Si Lada Batak, dari Bumbu Dapur hingga Pasar Internasional

Selain bumbu, tumbuhan endemik andaliman ini juga dapat digunakan sebagai bahan obat-obatan.

Tayang:
Penulis: Maurits Pardosi | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/MAURITS
Andaliman merupakan tanaman endemik di Kabupaten Toba dan saat ini menjadi bahan berbagai bumbu, kecantikan, dan obat-obatan.  

Ia yakin, tanaman endemik di Tanah Batak bakal mampu menembus pasar internasional.

"Pengusaha dari Jepang sempat membeli andaliman dari saya hampir dua tahun (2022-2023) sekali sebulan hampir seratus kilo saya kirim ke Negeri Sakura," terang Marandus.

"Kendalanya, mereka mau membeli andaliman segar sementara stok andaliman kadang terbatas dan juga gudang penyimpanan tidak ada, akhirnya saat ini tidak ada lagi pesanan," terangnya.

Kini, ia tengah menjalin kerjasama dengan pengusaha asal Bangka Belitung yang mau membeli buah andaliman kering tanpa ranting.

Bumbu ini akan dijual di super market yang ada di Jakarta.

"Andaliman kering kita jual kepada mereka, selanjutnya andaliman bulat dikemas dalam tabung yang jika tutupnya diputar akan menjadi serbuk untuk ditaburkan ke makanan, dan telah di suplai ke Rans Market di Senayan dan Parnes Market di daerah Jakarta oleh pengusaha Bangka Belitung," sambungnya.

Lahan Tanaman Endemik Andaliman Capai Luas 200 Hektar di Toba

Menurut data Dinas Pertanian Kabupaten, luas lahan tanaman endemik ini mencapai 200 hektar.

l Kabid Perkebunan Dinas Pertanian Toba Frisda Napitupulu mengatakan, areal tanaman endemik ini mayoritas berada di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Habinsaran, Borbor dan Nassau.

"Dimana tanaman andaliman yang dibudidayakan oleh petani di tiga kecamatan tersebut masih secara alami, buah yang jatuh kemudian menjadi tumbuhan baru yang nantinya ditanam untuk mengganti tanaman yang tidak subur lagi," kata Frisda.

Sementara dukungan yang diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Toba melalui Dinas Pertanian dalam membantu masyarakat untuk mempermudah penanaman dengan memunculkan bibit varian baru untuk memudahkan masyarakat petani andaliman dengan mengundang pihak kementerian agar dilakukan penelitian.

"Sebab kita akui, untuk pembibitan andaliman sangat susah. Dinas Pertanian Toba hingga sekarang belum ada yang ahli dalam pembibitan andaliman.

Selain masa dorman (pertumbuhan dari biji hingga bertunas) bisa sampai bertahun dan tingkat keberhasilan pembibitan sangat sulit," ujarnya.

Lanjutnya, lamanya masa dormansi biji andaliman hingga pohon tua yang menjatuhkan buah andaliman mati barulah biji pecah menjadi tunas, sehingga dibutuhkan teknologi canggih untuk mempercepat masa dormansi.

Sementara tenaga peneliti dan teknologi Dinas Pertanian Toba tidak ada, selain anggaran Kabupaten Toba terbatas.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved