Catatan Piala Dunia

Tak Jauh di Bumi, Tak Jauh di Langit

TAHUN 2002, Maria de Lurdes Assuncao Pina, atau yang lebih dikenal dengan potongan namanya yang lebih pendek, Lura, merilis album bertajuk ‘In Love’.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN MEDAN/via Eximtours.cz
ILUSTRASI Tanjung Verde. 

Como a chuva na minha terra
Que lava os olhos e a dor
Sinto a falta do teu cheiro

TAHUN 2002, Maria de Lurdes Assuncao Pina, atau yang lebih dikenal dengan potongan namanya yang lebih pendek, Lura, merilis album bertajuk ‘In Love’. Sebagaimana judulnya, tentu saja, ini tentang cinta, tentang cinta-cintaan: korelasi antarmanusia, persisnya laki-laki dan perempuan, yang tengah dimabuk asmara.

Di antara 12 lagu, terdapat satu yang sedikit berbeda. Perihal cinta juga, sebenarnya. Bedanya, di lagu ini, Lura mengisahkan cinta, dalam hal ini cintanya, pada tanah tumpah darah leluhurnya, Tanjung Verde. Lura berkewarganegaraan Portugal. Dia lahir di Lisbon, tahun 1975, tapi kedua orang tuanya lahir dan besar di Tanjung Verde.

Like the rain on my land
that washes the eyes and the pain
I miss your smell

Ya, begitulah terjemahannya. Aroma yang dirindukan. Aroma laut, aroma pasir pantai, aroma dan suara jatuh hujan yang menitik di atasnya. Lagu ini berjudul ‘Cabo Verde’, dan Lura, dari bait ke bait, dalam nada-nada ritmik yang pelan tapi merasuk, memaparkan betapa negara di kawasan semenanjung pantai Afrika Barat [berbatasan dengan Senegal, Gambia, dan Mauritania], ini sangat indah, sekaligus sangat subur, sebagaimana namanya, ‘Tanjung Hijau’. Terutama pantai, danau, gurun dan lanskap pegunungannya. 

Pantai Santa Maria, Danau Pedra de Lume yang berair asin, Gurun Viana, serta Pico do Fogo dan Monte Cara di Pulau Sao Vicente. Dari kejauhan, puncak Monte Cara membentuk siluet menyerupai wajah manusia yang tengah berbaring menatap langit. Juga kota tua Praia, Cidade Velha. Ah... pendek kata, seturut Lura, juga puisi-puisi Eugenio Tavares dan Jorge Barbosa, Cabo (atau Cape) Verde, adalah potongan surga.

Namun, bagaimana dengan sepak bola? Di luar yel-yel, belum ada lagu yang benar-benar ditulis untuk sepak bola di Tanjung Verde. Belum ada puisi. Walau sudah dikenal dan dimainkan secara massif sejak awal abad 19, sepak bola Tanjung Verde baru sah menjadi bagian dari FIFA pada 1982.  Bahkan, CAF, federasi sepak bola Afrika, baru mengakui mereka sepuluh tahun berselang.

Meski demikian, dibanding negara-negara lain “seangkatannya”, perkembangan Tanjung Verde terhitung cepat. Pada kelolosan pertama di Piala Afrika tahun 2013, mereka langsung menembus perempat-final. Di ajang lebih besar, Piala Dunia, setelah melewatkan sepuluh edisi sebagai pecundang, Tanjung Verde bikin takjub seisi jagat raya.

Tergabung di Grup D kualifikasi Afrika Piala Dunia 2026, mereka berhasil memuncaki klasemen sekaligus lolos putaran final, memaksa kekuatan “tradisional” seperti Kamerun untuk melakoni laga playoff. Kamerun, akhirnya tersingkir, menyusul Libya, Angola, Mauritius, dan Eswatini, yang sudah lebih dulu masuk kotak. Tanjung Verde, menjadi satu dari empat debutan Piala Dunia 2026, bersama Yordania, Uzbekistan, dan Curacao.

Jair Ribeiro, mantan pemain Tim Nasional Tanjung Verde, yang telah menjalani hidup sebagai diaspora di Amerika Serikat selama 26 tahun, dalam wawancara dengan The Atlantic, menyebut dia tak kuasa menahan air mata saat kepastian lolos itu diperoleh. Matchday pamungkas, Tanjung Verde menekuk Eswatini 3-0 pada laga di Estadio Nacional de Cabo Verde, Praia, 13 Oktober 2025. Di hari yang sama, Kamerun ditahan imbang Angola 0-0.
“Os Tubaroes Azuis [sebutan untuk Tim Nasional Tanjung Verde yang berarti ‘Hiu Biru’] ke Piala Dunia. Sesuatu yang bahkan tidak terpikirkan sebelumnya. Kami, negara dengan populasi kurang dari setengah juta, sekarang berada di Piala Dunia,” katanya.

Keberhasilan ini, di lain sisi, juga mengubah cara pandang publik Tanjung Verde terhadap sepak bola. Dalam hal ini, terhadap laku-laku pemujaan. Sebelumnya, selama berpuluh-puluh tahun, anak-anak di Tanjung Verde, para remaja, para pemuda, bahkan pemain-pemain sepak bola mereka, kerap memuja dan mengandaikan diri sebagai figur-figur idola global. ‘Saya Maradona’, ‘saya Van Basten’, ‘saya Messi’, ‘saya Ronaldo’, 'saya Neymar', tapi kini, nama-nama yang muncul adalah Ryan Mendes dan Garry Rodrigues. Juga Logan Costa, Jamiro Monteiro, atau kiper Josimar Jose Evora Dias alias Vozinha.

“Kami sekarang punya bintang sendiri,” kata Riberio, yang mengaku sama sekali tidak kecil hati lantaran namanya tidak akan pernah disebut. “Kami bangga dengan mereka. Kami bangga dengan mereka yang telah mengantarkan Tanjung Verde ke Piala Dunia. Dan karenanya, barangkali, kami tidak terlalu peduli nanti akan melawan siapa.”
Dan kita tahu, lawan pertama Tanjung Verde di Piala Dunia, adalah Spanyol. Dan kita juga sudah tahu seperti apa hasil akhirnya.

Sejauh timur dari barat, jauh di bumi jauh di langit, ya, tadinya, idiom ini terlanjur diyakini akan mewujud --dengan teramat mudah-- lantaran perbedaan kedua negara memang membentang sungguh lebar. Ini dianggap bukan pertarungan Goliath melawan David yang menyimpan potensi mukjizat. Ini pertarungan Superman versus Lex Luthor. Superman pasti menang karena Luthor sebenar-benarnya harus kalah. Dipandang dari sudut mana pun Spanyol kelewat perkasa. Kebintangan Lamine Yamal, Mikel Oyarzabal, Ferran Torres, atau Gavi, terlalu tinggi untuk disentuh pemain-pemain Tanjung Verde. Mendes, Rodrigues, Costa, Montero, belum dapat dijadikan bandingan bagi Rodri, Pedri, atau Fabian Ruiz. Mereka kalah kualitas, sekaligus kalah pengalaman. 

Namun di lapangan kenyataan bicara lain. Di Atalanta Stadium, Amerika Serikat, 15 Juli, kesenjangan ini mengabur, lalu pelan-pelan berkelindan. Para pemain Tanjung Verde, dalam kegugupan mereka, mampu membangun lapis demi lapis pertahanan yang begitu kokoh. Yamal dimasukkan, Nico Williams dimasukkan, tidak ada pengaruh. Persentase penguasaan bola 26 berbanding 74 bukan masalah.

Dibombardir sepanjang laga, dengan hanya membalas satu tembakan ke arah gawang, tak jadi soal. Skor 0-0, bukan saja menjadi penanda satu sejarah baru, tapi sekaligus membuktikan secara terang-benderang betapa jarak yang membentang tadi telah terpapas habis, dan barangkali, sudah waktunya bagi para penyanyi di Tanjung Verde, para penyair, untuk menuliskan sepak bola pada partitur dan bait-bait puisi mereka. Tanjung Verde sekarang bukan lagi melulu tentang keindahan.(t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 02:00 WIB
Belgium
Belgia
1 - 1
Egypt
Mesir
Grup H - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 05:00 WIB
Saudi Arabia
Arab Saudi
1 - 1
Uruguay
Uruguay
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 08:00 WIB
Iran
Iran
2 - 2
New Zealand
Selandia Baru
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved