Banjir dan Longsor di Sumut
Rumah Hanyut, dan Harus Terjang Banjir Selama 2 Jam Untuk Bawa Bayinya yang Sekarat ke RS
Pilu Mistera selamatkan bayi dari banjir di Tapteng, saat balik ke rumah sudah hancur dan butuh popok.
Penulis: Anisa Rahmadani | Editor: Tria Rizki
Pilu, Rumah Hanyut, dan Harus Terjang Banjir Selama 2 Jam Untuk Bawa Bayinya yang Sekarat ke RS, Mistera: Butuh Popok
TRIBUN-MEDAN.COM,MEDAN - Bencana banjir bandang yang terjadi di Kelurahan Hutanabolon,Kecamatan Tukka,Kabupaten Tapanuli Tengah pada Selasa (25/11/2025) lalu begitu mengerikan.
Duka yang mendalam pun dirasakan masyarakat yang tinggal di area perbukitan ini. Satu kampung di Kelurahan tersebut, tepatnya di Lorong 3 dan 4 hampir musnah.
Perkampungan yang awalnya dihuni warga untuk melangsungkan hidup seolah-olah sirna ditelan bumi. Rumah-rumah masyarakat Desa tertimbun tanah tak terlihat lagi.
Kalaupun ada, kondisinya rusak parah dan hampir tertutup tanah liat yang terbawa air banjir.
Kayu gelondongan dan batu-batu gunung berukuran besar yang terbawa longsor maupun banjir terlihat menumpuk di pemukiman.
Sepanjang perjalanan menuju ke Hutanabolon, tepatnya di Lorong 3 dan 4, hampir semua rumah warga tinggal lantainya saja.
Beberapa terlihat sisa-sisa pondasinya saja, dan bagian tembok, maupun atapnya sudah tersapu air atau tertimbun longsor.
Untuk menuju kemari pun butuh persiapan ekstra seperti mobil double cabin, atau motor trail. Sebab, masih ada jalan masih banjir setinggi betis orang dewasa. Ditambah, lumpur masih tinggi dan sisa-sisa lumpur masih berada di kanan kiri jalan.
Untuk bertahan hidup, masyarakat betul-betul mengandalkan pemerintah ataupun bantuan. Sejumlah warga yang masih bertahan terlihat memasak air menggunakan kayu bakar, dan makan seadanya.
Seorang warga Hutanabolon, Mistera bercerita pada saat banjir terjadi, anaknya yang masih bayi umur 8 bulan memang sedang sakit demam, muntah dan mencret (munmen). Di hari itu niat mereka memang mau pergi berobat.
Namun pada pukul 07.00 WIB, tiba-tiba hujan cukup deras. Mereka pun menunggu hujan reda. Namun, sang suami melihat air paret sudah tinggi dan masuk ke rumah.
Diceritakan Ibu yang memiliki anak satu ini, ia bersama sang suami mengira itu hanya banjir biasa. Namun lama-lama air meluap makin beras.
Ia bersama sang suami pun panik, dan membawa bayinya ke rumah orang tua yang enggak jauh dari sana.
| Puasa Tinggalkan Kampung Halaman, Curhat Warga Korban Banjir Garoga: Gak Perlu Kami Baju Lebaran |
|
|---|
| AKHIRNYA Kementerian Lingkungan Hidup Gugat 6 Perusahaan di Sumut Rp 4,8 Triliun |
|
|---|
| Data BNBA Korban Bencana Sumut Rampung, Gubsu Bobby: Tinggal Tunggu Realisasi Anggaran |
|
|---|
| DAFTAR 6 Perusahaan di Sumut Digugat Kementerian LH Imbas Banjir Sumatera, Dua di PN Medan |
|
|---|
| Bupati Tapteng Masinton Normalisasi Sungai dan Sawah di Tukka, Akui Bona Lumban Paling Parah |
|
|---|